close -->
close
0


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Oleh: Al Akh Iskandar Zulkarnaen
PENYALURAN ZAKAT

Allah telah menegaskan bahwa penyaluran zakat hanyalah untuk orang-orang yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60, yaitu sebanyak delapan golongan. Firman Allah :


Sesungguhnya shadaqah ( zakat-zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengeuru-penguru zakat, para muallaf yang dibujuik hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk dijalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.”
Para ulama telah sepakat atas delapan golongan penerima zakat yang termaktub dalam ayat diatas, tetapi mereka berbeda pendapat tentang tafsir makna setiap golongan. Diantara mereka ada yang mempersempit makna, sebagian lainnya memperluas.

Terlepas dari itu semua, ada hikmah yang tersebunyi dibalik ashnaf atau golongan yang telah ditentukan Allah sebagai mustahik zakat. Mengapa Allah yang secara langsung mengatur golongan yang berhak menerima zakat ? padahal Allah telah menyebutkan zakat dalam Al-Qur’an secara ringkas, sebagaimana halnya shalat, bahkan lebih ringkas dari shalat ? dalam Al-Qur’an Allah tidak menyebutkan berapa besar zakat, apa syarat-syaratnya, tapi sunnahlah yang menjabarkan pelaksanaan, memperinci, dan menjelaskan dengan keterangan-keterangan, baik berupa perkataan atau perbuatan.

Tapi mengapa Allah dalam Al-Qur’an secara langsung menyebutkan dan memperinci orang-orang yang berhak menerima zakat ? mengapa Allah tidak menyebutkannya secara umum saja, misalnya untuk orang-orang yang membutuhkan tanpa memperincinya satu persatu, sebagimana halnya kewajiban menunaikan zakat yang disebutkan secara umum dalam Al-Qur’an tanpa memperincinya ?

Pada masa Rosulullah, orang-orang yang serakah dengan harta dunia, mereka tidak dapat menahan hawa nafsu ketika mereka melihat dana sedekah dan zakat. Mereka mengharapkan percikan harta tersebut dari Rosulullah. Tetapi ternyata mereka tidak diperhatikan oleh Rosulullah. Mereka mulai menggunjing dan menyerang kedudukan beliau sebagai seorang Nabi. Kemudian turunlah ayat Al-Qur’an yang menyingkap sifat-sifat mereka yang munafik dan serakah itu dengan menunjukan kepalsuan mereka yang hanya mementingkan kepentingan pribadi. Dan sekaligus ayat itu menerangkan kemana sasaran zakat itu harus dikeluarkan. Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 58-60 :


Dan diantara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah-sedekah. Jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya (maka) dengan serta merta mereka menjadi marah.

Jika mereka sungguh sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rosulnya kepada mereka, dan berkata: “cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberi kepada kami sebagian dari karuniaNya, dan dengan demikian (pula) RosulNya, sesungguhnya adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).
Sesungguhnya shadaqah ( zakat-zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengeuru-penguru zakat, para muallaf yang dibujuik hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk dijalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.”
Maka dengan turunnya ayat tersebut harapan merekapun menjadi buyar, sasaran zakat menjadi jelas dan masing-masing mengetahui haknya.

Dengan dijelaskannya lebih rinci oleh Allah dalam Al Qur’an tentang penyaluran zakat, maka para penguasa atau petugas zakat, atau juga lembaga-lembaga pengelola zakat tidak dapat membagikan zakat sesuai dengan sekehendak hati mereka. Karena jika demikian, hal itu akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang akan mereka gunakan untuk kepentingan pribadi mereka atau juga kepentingan golongan mereka dan bukan untuk kepentingan Islam dan umat Islam.

Kalau kita perhatikan, sebelum Islam datang, sejarah keuangan sudah mengenal banyak sekali berbagai macam perpajakan. Pemungutan pajak sudah dilakukan oleh berbagai bangsa sejak dari zaman dahulu. Hasil pemungutan pajak kemudian disimpan diperbendaharaan kerajaan atau pemerintahan, untuk kemudian dibagikan kepada pejabat dan aparatnya dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka dan keluarganya, bahkan untuk kemewahan dan kebesaran mereka sendiri, tanpa pedulikan segala apa yang menjadi kebutuhan rakyat pekerja dan golongan fakir miskin yang lemah(Fiqhuzzakah, Syekh Yusuf Qardhawi).

Itulah penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan masyarakat sebelum datangnya Islam terhadap harta pajak. Itu semua terjadi karena tidak adanya hukum yang secara tegas sebagaimana halnya Al-Qur’an, yang memperinci dan mempertegas tentang penyaluran harta tersebut.


Delapan golongan mustahik zakat
1. Fakir dan Miskin

Golongan yang pertama dan yang kedua disebutkan dalam Al-Qur’an adalah fakir miskin. ada perbedaan pendapat diantara ulama tentang batasan yang membedakan antara fakir dan miskin. Tetapi para ulama sepakat bahwa baik fakir maupun miskin memiliki harta dibawah nishab zakat, yaitu mereka yang tidak dapat mencukupi biaya dan kebutuhan hidup sehari-hari, baik makanan, pakaian, tempat tinggal, pengobatan, pendidikan, dan lainnya, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang yang menjadi tanggungannya, seperti anak dan istri (Akutansi Zakat, DR.Husain Syahatah)

Islam menjadikan fakir miskin sebagai sasaran zakat, membuktikan bahwa dengan zakat Islam berusaha untuk mengentaskan kemiskinan. Bahkan dalam Al-Qur’an golongan fakir miskin ini disebutkan pertama kali sebelum golongan-golongan lainnya disebutkan.

Zakat bersifat konsumtif dan produktif

Menurut K.H. Didin Hafidhuddin,M.Sc., zakat yang disalurkan kepada golongan ini dapat bersifat konsumtif, yaitu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, dan dapat pula bersifat produktif, yaitu untuk menambah modal usaha mereka. Zakat yang bersifat konsumtif antara lain dinyatakan antara lain dalam surah Al-Baqarah ayat 273


: “(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) dijalan Allah, mereka tidak dapat (berusaha) dimuka bumi, orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu mengenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apasaja harta yang baik yang kamu nafkahkan (dijalan Allah), maka sesungguhnya Allah maha mengetahui.”
Adapun penyaluran zakat secara produktif sebagaimana yang pernah terjadi di zaman Rosulullah dikemukakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Salim Bin Abdillah Bin Umar dari ayahnya, bahwa Rosulullah telah memberikan kepadanya zakat lalu menyuruhnya untuk dikembangkan atau disedekahkan lagi.

Dalam kaitan dengan penyaluran zakat yang bersifat produktif, ada pendapat menarik yang dikemukakan oleh Syekh Yusuf Qardhawi, dalam bukunya yang fenomenal, yaitu Fiqh Zakat, bahwa pemerintah Islam diperbolehkan membangun pabrik-pabrik atau perusahaan-perusahaan dari uang zakat untuk kemudian kepemilikan dan keuntungannya bagi kepentingan fakir miskin, sehingga akan terpenuhi kebutuhan hidup mereka sepanjang masa. Dan untuk saat ini peranan pemerintah dalam pengelolaan zakat digantikan oleh Badan Amil Zakat atau Lembaga Amil Zakat.

Menurut Didin Hafiduddin, BAZ ataupun LAZ, jika memberikan zakat yang bersifat produktif, harus pula melakukan pembinaan dan pendampingan kepada para mustahik agar kegiatan usahanya dapat berjalan dengan baik. Disamping melakukan pembinaan dan pendampingan kepada para mustahik dalam kegiatan usahanya, BAZ dan LAZ juga harus memberikan pembinaan ruhani dan intelektual keagamaannya agar semakin meningkat kualitas keimanan dan keIslamanannya.

2. Amil (Petugas zakat)

Petugas zakat merupakan golongan ketiga yang disebutkan oleh Allah SWT sebagai mustahik zakat. Zakat diberikan kepada para petugasnya baik yang kaya maupun yang miskin. Karena zakat yang diberikan kepada mereka bukan karena kemiskinan mereka, bukan juga karena ketidak mampuan mereka, tapi sebagai upah atau gaji atas kerja yang telah mereka lakukan dalam mengurus dan mengelola harta zakat.

Batasan zakat yang diberikan untuk petugas zakat

Menurut sebagian ulama, Golongan ini berhak mendapatkan bagian dari zakat sebanyak 1/8 atau 12,5 %. Tapi bukan berarti mutlak harus 12,5 %, menurut para ulama itu merupakan kadar maksimal. Dan zakat untuk golongan ini disesuaikan dengan seberapa besar tugas yang dijalankannya. Apakah petugas melakukan tugas-tugas keamilannya secara baik dan profesional, dan apakah petugas tersebut melakukan tugasnya secara fulltime, atau hanya melaksanakan tugas sekedarnya dan dengan waktu yang seadanya ?

Jika petugas tersebut melakukan tugas-tugas keamilannya dengan baik, profesional dan sebagian besar waktunya digunakan untuk mengurus dan mengelola zakat, maka petugas tersebut berhak untuk mendapatkan sesuai dengan apa yang telah dilakukannya. Namun apabila melakukan tugas keamilannya sebagai sampingan, maka mereka tidak berhak untuk mendapatkan 12,5 %, mereka hanya diberi beberapa persen saja atau menurut kebijakan yang disesuaikan dengan seberapa besar dan seberapa banyak mereka melakukan tugas keamilannya.

Membayar zakat secara langsung atau melalui petugas ?

Allah memasukan para petugas zakat kedalam golongan mustahik zakat menunjukan bahwa zakat bukanlah tugas perseorangan, melainkan tugas kolektif. Harus ada dari suatu komunitas mengangkat orang-orang yang bekerja untuk mengurus dan mengelola zakat, baik itu mengumpulkan, menyalurkan, mencatat, menghitung, dan sebagainya. Bila dalam pemerintahan Islam, tugas ini diatur oleh negara dan memasukan dana zakat sebagai kas negara.

Menyalurkan zakat secara langsung memang sah ditinjau dari hukum syariah, tetapi menyalurkan zakat melalui lembaga pengelola zakat akan jauh lebih efektif daripada menyalurkannya secara orang perorang. Ada beberapa keuntungan yang bisa didapatkan dengan menyalurkan zakat kepada lembaga pengelola zakat yang tidak akan diperoleh dengan membayarkan secara langsung oleh muzakki kepada mustahik zakat sebagaimana yang telah dijelaskan dalam bab potensi zakat, yaitu :

1. Menjamin kepastian dan disiplin muzakki dalam membayar zakat
2. Untuk menjaga perasaan rendah diri para mustahik
3. Memperlihatkan syi’ar Islam
4. Untuk mencapai efisiensi dan efektifitas, serta sasaran yang tepat dalam penggunaan dana zakat menurut skala prioritas (Zakat Dalam Perekonomian Modern,K.H. Didin Hafidzuddin)
5. Dapat digunakan untuk kemaslahatan umat Islam secara umum yang memerlukan dana yang tidak sedikit. Seperti mengantisipasi upaya pemurtadan dari pihak luar, upaya pembinaan kaum dhuafa baik dari segi ekonomi maupun pendidikannya, jihad melawan kaum kafir yang memerangi umat Islam sebagaimana yang terjadi dibeberapa wilayah yang ada didunia.

Jika zakat diserahkan secara langsung dari muzakki kepada mustahik, meskipun secara hukum syariah adalah sah, akan tetapi disamping akan terabaikannya hal-hal tersebut diatas, juga hikmah dan fungsi zakat, terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan umat secara umum, akan sulit diwujudkan.

Walaupun secara syariah sah menyerahkan zakat secara langsung, tapi menyerahkan zakat kepada petugas zakat jauh lebih utama dari segi hukum syari’ah. Karena Disamping keutamaan yang telah disebutkan diatas, menyerahkan zakat kepada petugas zakat merupakan hal yang biasa dilakukan dan dicontohkan oleh Rosulullah dan para sahabat sesudahnya. Bahkan para ulama sesudahnya pun tetap mewajibkan penyerahan pengurusan dan pengelolaan zakat kepada para petugas.

Disamping itu mengapa Allah memasukan Amil atau petugas zakat sebagai salah satu mustahik zakat ? karena memang zakat itu sendiri harus ada yang mengurusnya, sehingga Allah memasukan Amil atau petugas zakat sebagai mustahik zakat, sebagai upah dari tugas yang telah mereka lakukan dalam mengelola zakat.

Syarat-syarat Amil Zakat

Petugas zakat harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Seorang muslim. Zakat bagi kaum muslimin mempunyai nilai ibadah disamping nilai sosial. Zakat merupakan salah satu rukun agama Islam, yaitu rukun yang ketiga, dan zakat merupakan bentuk manifestasi keimanan dan ketaatan seorang muslim kepada ajaran Islam, sehingga kepengurusannya pun tidak mungkin diserahkan kepada selain muslim yang notabene mereka tidak mengimani ajaran Islam. Menurut para ulama boleh menjadikan non muslim sebagai petugas, tapi tidak secara langsung mengelola dana zakat, melainkan mereka hanya sekedar petugas penjaga atau sebagai sopir.

2. Seorang mukallaf, yaitu orang dewasa dan sehat akal fikirannya.

3. Memahami hukum-hukum zakat. Para ulama mensyaratkan petugas zakat harus memahami hukum-hukum zakat, khususnya petugas yang secara langsung bergelut dengan zakat, karena mereka yang nantinya akan mengambil, mencatat dan menyalurkan kepada para mustahik, dan semua itu membutuhkan kepada pengetahuan tentang zakat supaya tidak salah dalam perhitungan dan salah dalam penyaluran. Adapun petugas yang tidak secara langsung bergelut dengan zakat, maka tidak disyaratkan untuk mengetahui hukum-hukum zakat.

Tapi alangkah lebih baiknya merekapun mengetahui hukum-hukum standar minimal zakat, karena bagaimanapun masyarakat tetap melihat petugas tersebut adalah petugas zakat. Pemahaman terhadap hukum-hukum zakat bagi seorang petugas zakat disebuah lembaga pengelola zakat akan sangat mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut. Ketika kita sebagai petugas zakat tidak mengetahui suatu hukum zakat yang ditanyakan oleh masyarakat, maka masyarakatpun akan bertanya-tanya, bagaimana para petugas zakat akan mengelola dana zakat, sedangkan mereka sendiri tidak tahu tentang zakat ?

4. Jujur dan amanah. Kejujuran dan amanah adalah dua hal yang harus dimiliki oleh seorang petugas zakat. Karena mereka sehari-harinya akan berhubungan dengan dana zakat yang tidak sedikit. Kejujuran dan amanah juga akan sangat mempengaruhi kepercayaan masyarakat. Jika dihadapan masyarakat para petugas zakat memperlihatkan sifat jujur dan amanah, maka masyarakat akan memberikan kepercayaannya kepada lembaga pengelola zakat dimana petugas zakat itu berada, yang dampaknya mereka akan semakin tenang untuk menyalurkan zakatnya kepada lembaga tersebut, Begitupun sebaliknya.

5. Sanggup dan mampu melaksanakan tugas. Disamping syarat-syarat yang telah disebutkan diatas, seorang petugas zakat juga harus mampu melaksanakan tugas, dalam artian kompeten dengan tugas yang diembannya baik dari segi fisik maupun keilmuan dan pengetahuan. Allah menceritakan kisah nabi Yusuf yang berkata kepada raja, “ Jadikanlah aku bendaharawan negara (mesir) karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” Kata menjaga (hifzu) berarti kata kerja yang berhubungan dengan kemampuan dari segi fisik. Sedangkan kata alim, berarti mempunyai ilmu dan berpengetahuan.

Yang harus diperhatikan oleh lembaga pengelola zakat
1. Kelembagaan
- Sistem
- Visi Misi
- Aliansi Strategis
- Susunan Organisasi
- Program
- Legalitas
- Rencana Kerja
- Evaluasi Kerja
- Sosialisasi
- Publikasi
2. SDM
- Jujur dan Amanah
- Kompeten dan Kapabel
- Kreatif dan Inovatif
- Comunication skill
- Manajerial Skill
- Leadership Skill
- Teamwork Building
- Negotiation Skill
- Making Decision
3. Muallaf
Muallafah qulubuhum sebagaimana yang tercantum dalam ayat Al-Qur’an menurut para ulama diperuntukkan untuk dua jenis orang, yaitu kafir dan muslim dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
1. Orang kafir
- Orang kafir yang diharapkan masuk Islam. Mereka diberi zakat untuk mendorong mereka agar masuk Islam sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Saw kepada Sofwan Bin Umayyah pada saat ia masih kafir.
- Orang yang dikhawatirkan kejelekan atau kejahatannya dengan harapan pemberian zakat tersebut menghentikan kejahatannya.

2. Orang Islam
- Golongan yang baru memeluk Islam. Zakat diberikan kepada mereka dalam rangka memperkuat dan menambah keyakinan mereka terhadap Islam.
- Orang Islam yang lemah imannya dan dikhawatirkan akan menjadi murtad
- Pemimpin dan tokoh masyarakat yang telah memeluk Islam yang masih mempunyai sahabat-sahabat orang kafir. Dengan memberi mereka zakat, diharapkan dapat menarik simpati sahabat-sahabatnya yang masih kafir untuk memeluk Islam. Diceritakan bahwa Abu Bakar pernah memberi zakat kepada Adi Bin Hatim dan Zibriqan Bin Badr, padahal keduanya muslim yang taat, akan tetapi mereka mempunyai posisi terhormat dikalangan masyarakatnya (Tafsir Al-Manar)

Menurut pakar zakat Didin Hafidhuddin, pada saat sekarang bagian muallaf dapat diberikan kepada lembaga-lembaga da’wah yang mengkhususkan garapannya untuk menyebarkan Islam didaerah-daerah terpencil dan disuku-suku terasing yang belum mengenal Islam. Juga dapat dialokasikan pada lembaga-lembaga da’wah yang bertugas melakukan balasan dan jawaban dalam rangka mengcounter pemahaman-pemahaman buruk tentang Islam yang dilontarkan oleh misi-misi agama tertentu yang kini sudah semakin merajarela, Juga dapat diberikan kepada lembaga-lembaga yang biasa melakukan training-training keIslaman bagi orang-orang yang baru masuk Islam, Atau juga untuk mencetak berbagai brosur dan media informasi lainnya yang dikhususkan bagi mereka yang baru masuk Islam.

4. Riqab (memerdekakan budak)

Hendaklah zakat difungsikan untuk membebaskan budak. Disamping dengan zakat Islam berusaha untuk mengentaskan kemiskinan, juga berusaha untuk membebaskan perbudakan, dan sarana-sarana yang ada dalam Islam untuk membebaskan budak bukan hanya dengan zakat saja, tapi juga ada sarana-sarana lainnya seperti kifarat sumpah. Sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 89 :
“ …Maka kafarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang budak…”
Juga dalam kifarat dzihar, sebagaimana yang tercantum dalam surah Al Mujadilah ayat 3 :

“Orang-orang yang menzihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, mak (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur….”
Menurut para ulama, bahwa cara membebaskan perbudakan ini biasanya dilakukan dengan dua cara :

1. Pembebasan diri hamba mukatab, yaitu budak yang telah membuat kesepakatan dan perjanjian dengan tuannya, bahwa dia sanggup membayar sejumlah harta (misalnya uang) untuk membebaskan dirinya. Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT dalam surah Annur ayat 33 :


Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetaui ada kebaikan pada diri mereka, dan berikanla kepada mereka sebagian harta yang dikaruniakan Alla kepada kamu…”
2. Uang zakat yang terkumpul dari para muzakki, dengan uang zakat itu kemudian dipakai untuk membeli dan membebaskan budak.

Ada sebagian masyarakat yang salah persepsi tentang golongan ini dalam konteks kontemporer. Mereka menganggap bahwa tenaga kerja (TKI) berhak untuk mendapatkan zakat dengan dianalogikan kepada golongan ini. sebenarnya jika TKI tersebut tidak mampu dari segi keuangan sedangkan dia sendiri mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, maka ia diberikan zakat atas nama golongan fakir miskin dan bukan dari golongan Riqab. Jika ia memerlukan uang untuk pulang ke tanah airnya dikarenakan ada suatu hal, maka ia boleh dibantu atas nama Ibnu Sabil.

Jika kita menganggap bahwa TKI berhak mendapatkan zakat dengan dianalogikan kepada golongan Riqab, maka akan banyak sekali dana zakat yang disalurkan kepada orang yang tidak seharusnya menerima zakat. Karena banyak sekali diantara TKI, mereka pulang ketanah air dengan membawa uang yang tidak sedikit sehingga mereka tidak perlu dibantu dari dana zakat. Bahkan banyak diantara mereka yang lebih layak disebut muzakki dari pada disebut mustahik. Dana zakat diberikan hanya untuk para TKI yang memang sangat membutuhkan, itupun diambil atas nama fakir miskin, karena keadaan mereka yang miskin.

Menurut DR. Husayn Syahatah dalam bukunya yang berjudul Akuntansi Zakat, termasuk kategori pembebasan budak dalam konteks kontemporer adalah membantu pembebasan tawanan muslim dari tangan kaum kafir, disamping dalam pembebasan tersebut terdapat penjagaan terhadap kehormatan Islam dan penjagaan kaum muslimin dari kaum kafir.


5. Gharimin (orang yang berhutang)
Menurut Abu Hanifah, gharim adalah orang yang mempunyai hutang, dan dia tidak memiliki bagian yang lebih dari hutangnya.

Menurut Imam Malik, Syafi’I dan Ahmad, bahwa orang yang mempunyai hutang terbagi kepada dua golongan. Pertama, orang yang mempunyai hutang untuk kemaslahatan diri dan keluarganya. Kemaslahatan ini adalah kemaslahatan yang digunakan untuk kebutuhan pokok bagi diri dan keluarganya, seperti kebutuhan makan, kebutuhan akan pakaian, untuk pengobatan, pendidikan dan kebutuhan pokok lainnya. Kedua, orang yang berutang untuk kemaslahatan umum. Contohnya orang yang mendamaikan dua pihak yang bersengketa, tetapi membutuhkan dana yang lumayan besar, sehingga ia harus berhutang. Atau orang yang melakukan amal-amal kebaikan, seperti memelihara anak-anak yatim, mengurus orang-orang lanjut usia, mendirikan tempat pendidikan untuk kaum dhuafa, dan lain sebagainya.

Menurut Syekh Yusuf Qardhawi, orang yang mengalami musibah dan bencana dalam hartanya, sedangkan ia mempunyai kebutuhan yang mendesak sehingga ia harus meminjam dari orang lain, berhak untuk mendapatkan zakat. Imam Mujahid berkata : “Tiga kelompok orang yang termasuk mempunyai hutang; orang yang hartanya terbawa banjir, orang yang hartanya musnah terbakar, dan orang yang mempunyai keluarga akan tetapi tidak mempunyai harta, sehingga ia berhutang untuk menafkahi keluarganya.”


6. Fisabilillah (dijalan Allah)
Secara umum makna dari fisabilillah ini segala amal perbuatan dalam rangka dijalan Allah. Pada zaman Rosulullah, fisabilillah adalah para sukarelawan perang yang ikut berjihad bersama beliau yang tidak mempunyai gaji tetap sehingga mereka diberi bagian dari zakat.

Para ulama baik salaf maupun khalaf berbeda pendapat tentang batasan fisabilillah. sebagian ada yang mempersempit, dan sebagian memperluas. Pendapat yang memperluas menyatakan bahwa segala amal perbuatan shaleh yang dilakukan secara ikhlas dalam rangka bertaqarrub kepada Allah, baik yang bersifat pribadi maupun kemasyarakatan, termasuk dalam kerangka fisabilillah. Adapun pendapat yang mempersempit menyatakan bahwa yang dimaksud dengan fisabilillah disini adalah khusus untuk jihad.

Menurut syekh yusuf Qardhawi, bahwa jihad itu sendiri bukan hanya dalam bentuk perang saja, tapi segala perbuatan yang dapat meninggikan kalimat Allah dimuka bumi ini dan merendahkan kalimat orang-orang kafir. Dalam konteks kontemporer, dana zakat dari pos fisabilillah ini boleh digunakan untuk hal-hal seperti mendirikan pusat kegiatan bagi kepentingan da’wah Islam yang benar dalam rangka menyampaikan risalahnya pada orang-orang non-muslim diseluruh dunia yang didalamnya terdapat berbagai macam agama dan aliran.

Juga untuk mendirikan pusat kegiatan Islam untuk mendidik generasi muda Islam, menjelaskan ajaran Islam yang benar, memelihara aqidah Islam dari kekufuran, menangkal pemikiran-pemikiran sesat yang sengaja dihembuskan oleh musuh-musuh Islam yang berusaha untuk menghancurkan Islam.

Juga untuk mendirikan percetakan surat kabar Islam, untuk menandingi berita-berita dari media-media yang merusak dan menyesatkan, membela Islam dari kebohongan-kebohongan musuh-musuh Islam yang menjelek-jelekkan Islam dengan media yang mereka miliki, serta menjelaskan Islam secara benar.

Menolong para da’I yang menyeru pada ajaran Islam yang benar, menolong mereka dari orang jahat dan zhalim, yang berusaha untuk menyiksa, membunuh, mengusir, maka menolong mereka agar tetap tegak dan istiqamah dalam menghadapi kekufuran dan kezaliman, juga termasuk fisabilillah.

Semua hal-hal yang telah disebutkan diatas apabila dilakukan dalam rangka meninggikan kalimat Allah, dan bukan dalam rangka fanatisme golongan, bukan dalam rangka kepentingan pribadi dan keluarga, maka termasuk fisabilillah.

7. Ibnu Sabil

Ibnu sabil adalah orang yang sedang melakukan perjalanan dan terputus bekalnya. Perjalanan disini adalah perjalanan yang mempunyai nilai ibadah dan bukan perjalanan dalam rangka maksiat. Perjalanan yang mempunyai nilai ibadah misalnya orang yang menuntut ilmu didaerah lain, atau orang yang melakukan da’wah disuatu daerah, atau orang yang mencari kerja disuatu negri untuk menafkahi keluarganya, kemudian apabila mereka semua terputus bekalnya dan mereka membutuhkan harta untuk sekedar mencukupi kebutuhan mereka, maka mereka diberi zakat dari pos Ibnu Sabil.

Tetapi menurut para ulama, apabila orang tersebut adalah orang kaya, maka zakat yang diberikan kepada mereka adalah dalam bentuk qordul hasan (pinjaman Cuma-Cuma) yang nantinya harus ia ganti apabila ia telah mendapatkan harta yang ia miliki. Adapun apabila orang yang terputus bekalnya bukan orang kaya, maka harta zakat yang diberikan tidak harus dikembalikan.
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorf

Dikirim pada 17 Agustus 2009 di


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Oleh: Al Akh Iskandar Zulkarnaen
PENYALURAN ZAKAT

Allah telah menegaskan bahwa penyaluran zakat hanyalah untuk orang-orang yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60, yaitu sebanyak delapan golongan. Firman Allah :


Sesungguhnya shadaqah ( zakat-zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengeuru-penguru zakat, para muallaf yang dibujuik hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk dijalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.”
Para ulama telah sepakat atas delapan golongan penerima zakat yang termaktub dalam ayat diatas, tetapi mereka berbeda pendapat tentang tafsir makna setiap golongan. Diantara mereka ada yang mempersempit makna, sebagian lainnya memperluas.

Terlepas dari itu semua, ada hikmah yang tersebunyi dibalik ashnaf atau golongan yang telah ditentukan Allah sebagai mustahik zakat. Mengapa Allah yang secara langsung mengatur golongan yang berhak menerima zakat ? padahal Allah telah menyebutkan zakat dalam Al-Qur’an secara ringkas, sebagaimana halnya shalat, bahkan lebih ringkas dari shalat ? dalam Al-Qur’an Allah tidak menyebutkan berapa besar zakat, apa syarat-syaratnya, tapi sunnahlah yang menjabarkan pelaksanaan, memperinci, dan menjelaskan dengan keterangan-keterangan, baik berupa perkataan atau perbuatan.

Tapi mengapa Allah dalam Al-Qur’an secara langsung menyebutkan dan memperinci orang-orang yang berhak menerima zakat ? mengapa Allah tidak menyebutkannya secara umum saja, misalnya untuk orang-orang yang membutuhkan tanpa memperincinya satu persatu, sebagimana halnya kewajiban menunaikan zakat yang disebutkan secara umum dalam Al-Qur’an tanpa memperincinya ?

Pada masa Rosulullah, orang-orang yang serakah dengan harta dunia, mereka tidak dapat menahan hawa nafsu ketika mereka melihat dana sedekah dan zakat. Mereka mengharapkan percikan harta tersebut dari Rosulullah. Tetapi ternyata mereka tidak diperhatikan oleh Rosulullah. Mereka mulai menggunjing dan menyerang kedudukan beliau sebagai seorang Nabi. Kemudian turunlah ayat Al-Qur’an yang menyingkap sifat-sifat mereka yang munafik dan serakah itu dengan menunjukan kepalsuan mereka yang hanya mementingkan kepentingan pribadi. Dan sekaligus ayat itu menerangkan kemana sasaran zakat itu harus dikeluarkan. Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 58-60 :


Dan diantara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah-sedekah. Jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya (maka) dengan serta merta mereka menjadi marah.

Jika mereka sungguh sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rosulnya kepada mereka, dan berkata: “cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberi kepada kami sebagian dari karuniaNya, dan dengan demikian (pula) RosulNya, sesungguhnya adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).
Sesungguhnya shadaqah ( zakat-zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengeuru-penguru zakat, para muallaf yang dibujuik hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk dijalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.”
Maka dengan turunnya ayat tersebut harapan merekapun menjadi buyar, sasaran zakat menjadi jelas dan masing-masing mengetahui haknya.

Dengan dijelaskannya lebih rinci oleh Allah dalam Al Qur’an tentang penyaluran zakat, maka para penguasa atau petugas zakat, atau juga lembaga-lembaga pengelola zakat tidak dapat membagikan zakat sesuai dengan sekehendak hati mereka. Karena jika demikian, hal itu akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang akan mereka gunakan untuk kepentingan pribadi mereka atau juga kepentingan golongan mereka dan bukan untuk kepentingan Islam dan umat Islam.

Kalau kita perhatikan, sebelum Islam datang, sejarah keuangan sudah mengenal banyak sekali berbagai macam perpajakan. Pemungutan pajak sudah dilakukan oleh berbagai bangsa sejak dari zaman dahulu. Hasil pemungutan pajak kemudian disimpan diperbendaharaan kerajaan atau pemerintahan, untuk kemudian dibagikan kepada pejabat dan aparatnya dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka dan keluarganya, bahkan untuk kemewahan dan kebesaran mereka sendiri, tanpa pedulikan segala apa yang menjadi kebutuhan rakyat pekerja dan golongan fakir miskin yang lemah(Fiqhuzzakah, Syekh Yusuf Qardhawi).

Itulah penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan masyarakat sebelum datangnya Islam terhadap harta pajak. Itu semua terjadi karena tidak adanya hukum yang secara tegas sebagaimana halnya Al-Qur’an, yang memperinci dan mempertegas tentang penyaluran harta tersebut.


Delapan golongan mustahik zakat
1. Fakir dan Miskin

Golongan yang pertama dan yang kedua disebutkan dalam Al-Qur’an adalah fakir miskin. ada perbedaan pendapat diantara ulama tentang batasan yang membedakan antara fakir dan miskin. Tetapi para ulama sepakat bahwa baik fakir maupun miskin memiliki harta dibawah nishab zakat, yaitu mereka yang tidak dapat mencukupi biaya dan kebutuhan hidup sehari-hari, baik makanan, pakaian, tempat tinggal, pengobatan, pendidikan, dan lainnya, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang yang menjadi tanggungannya, seperti anak dan istri (Akutansi Zakat, DR.Husain Syahatah)

Islam menjadikan fakir miskin sebagai sasaran zakat, membuktikan bahwa dengan zakat Islam berusaha untuk mengentaskan kemiskinan. Bahkan dalam Al-Qur’an golongan fakir miskin ini disebutkan pertama kali sebelum golongan-golongan lainnya disebutkan.

Zakat bersifat konsumtif dan produktif

Menurut K.H. Didin Hafidhuddin,M.Sc., zakat yang disalurkan kepada golongan ini dapat bersifat konsumtif, yaitu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, dan dapat pula bersifat produktif, yaitu untuk menambah modal usaha mereka. Zakat yang bersifat konsumtif antara lain dinyatakan antara lain dalam surah Al-Baqarah ayat 273


: “(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) dijalan Allah, mereka tidak dapat (berusaha) dimuka bumi, orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu mengenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apasaja harta yang baik yang kamu nafkahkan (dijalan Allah), maka sesungguhnya Allah maha mengetahui.”
Adapun penyaluran zakat secara produktif sebagaimana yang pernah terjadi di zaman Rosulullah dikemukakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Salim Bin Abdillah Bin Umar dari ayahnya, bahwa Rosulullah telah memberikan kepadanya zakat lalu menyuruhnya untuk dikembangkan atau disedekahkan lagi.

Dalam kaitan dengan penyaluran zakat yang bersifat produktif, ada pendapat menarik yang dikemukakan oleh Syekh Yusuf Qardhawi, dalam bukunya yang fenomenal, yaitu Fiqh Zakat, bahwa pemerintah Islam diperbolehkan membangun pabrik-pabrik atau perusahaan-perusahaan dari uang zakat untuk kemudian kepemilikan dan keuntungannya bagi kepentingan fakir miskin, sehingga akan terpenuhi kebutuhan hidup mereka sepanjang masa. Dan untuk saat ini peranan pemerintah dalam pengelolaan zakat digantikan oleh Badan Amil Zakat atau Lembaga Amil Zakat.

Menurut Didin Hafiduddin, BAZ ataupun LAZ, jika memberikan zakat yang bersifat produktif, harus pula melakukan pembinaan dan pendampingan kepada para mustahik agar kegiatan usahanya dapat berjalan dengan baik. Disamping melakukan pembinaan dan pendampingan kepada para mustahik dalam kegiatan usahanya, BAZ dan LAZ juga harus memberikan pembinaan ruhani dan intelektual keagamaannya agar semakin meningkat kualitas keimanan dan keIslamanannya.

2. Amil (Petugas zakat)

Petugas zakat merupakan golongan ketiga yang disebutkan oleh Allah SWT sebagai mustahik zakat. Zakat diberikan kepada para petugasnya baik yang kaya maupun yang miskin. Karena zakat yang diberikan kepada mereka bukan karena kemiskinan mereka, bukan juga karena ketidak mampuan mereka, tapi sebagai upah atau gaji atas kerja yang telah mereka lakukan dalam mengurus dan mengelola harta zakat.

Batasan zakat yang diberikan untuk petugas zakat

Menurut sebagian ulama, Golongan ini berhak mendapatkan bagian dari zakat sebanyak 1/8 atau 12,5 %. Tapi bukan berarti mutlak harus 12,5 %, menurut para ulama itu merupakan kadar maksimal. Dan zakat untuk golongan ini disesuaikan dengan seberapa besar tugas yang dijalankannya. Apakah petugas melakukan tugas-tugas keamilannya secara baik dan profesional, dan apakah petugas tersebut melakukan tugasnya secara fulltime, atau hanya melaksanakan tugas sekedarnya dan dengan waktu yang seadanya ?

Jika petugas tersebut melakukan tugas-tugas keamilannya dengan baik, profesional dan sebagian besar waktunya digunakan untuk mengurus dan mengelola zakat, maka petugas tersebut berhak untuk mendapatkan sesuai dengan apa yang telah dilakukannya. Namun apabila melakukan tugas keamilannya sebagai sampingan, maka mereka tidak berhak untuk mendapatkan 12,5 %, mereka hanya diberi beberapa persen saja atau menurut kebijakan yang disesuaikan dengan seberapa besar dan seberapa banyak mereka melakukan tugas keamilannya.

Membayar zakat secara langsung atau melalui petugas ?

Allah memasukan para petugas zakat kedalam golongan mustahik zakat menunjukan bahwa zakat bukanlah tugas perseorangan, melainkan tugas kolektif. Harus ada dari suatu komunitas mengangkat orang-orang yang bekerja untuk mengurus dan mengelola zakat, baik itu mengumpulkan, menyalurkan, mencatat, menghitung, dan sebagainya. Bila dalam pemerintahan Islam, tugas ini diatur oleh negara dan memasukan dana zakat sebagai kas negara.

Menyalurkan zakat secara langsung memang sah ditinjau dari hukum syariah, tetapi menyalurkan zakat melalui lembaga pengelola zakat akan jauh lebih efektif daripada menyalurkannya secara orang perorang. Ada beberapa keuntungan yang bisa didapatkan dengan menyalurkan zakat kepada lembaga pengelola zakat yang tidak akan diperoleh dengan membayarkan secara langsung oleh muzakki kepada mustahik zakat sebagaimana yang telah dijelaskan dalam bab potensi zakat, yaitu :

1. Menjamin kepastian dan disiplin muzakki dalam membayar zakat
2. Untuk menjaga perasaan rendah diri para mustahik
3. Memperlihatkan syi’ar Islam
4. Untuk mencapai efisiensi dan efektifitas, serta sasaran yang tepat dalam penggunaan dana zakat menurut skala prioritas (Zakat Dalam Perekonomian Modern,K.H. Didin Hafidzuddin)
5. Dapat digunakan untuk kemaslahatan umat Islam secara umum yang memerlukan dana yang tidak sedikit. Seperti mengantisipasi upaya pemurtadan dari pihak luar, upaya pembinaan kaum dhuafa baik dari segi ekonomi maupun pendidikannya, jihad melawan kaum kafir yang memerangi umat Islam sebagaimana yang terjadi dibeberapa wilayah yang ada didunia.

Jika zakat diserahkan secara langsung dari muzakki kepada mustahik, meskipun secara hukum syariah adalah sah, akan tetapi disamping akan terabaikannya hal-hal tersebut diatas, juga hikmah dan fungsi zakat, terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan umat secara umum, akan sulit diwujudkan.

Walaupun secara syariah sah menyerahkan zakat secara langsung, tapi menyerahkan zakat kepada petugas zakat jauh lebih utama dari segi hukum syari’ah. Karena Disamping keutamaan yang telah disebutkan diatas, menyerahkan zakat kepada petugas zakat merupakan hal yang biasa dilakukan dan dicontohkan oleh Rosulullah dan para sahabat sesudahnya. Bahkan para ulama sesudahnya pun tetap mewajibkan penyerahan pengurusan dan pengelolaan zakat kepada para petugas.

Disamping itu mengapa Allah memasukan Amil atau petugas zakat sebagai salah satu mustahik zakat ? karena memang zakat itu sendiri harus ada yang mengurusnya, sehingga Allah memasukan Amil atau petugas zakat sebagai mustahik zakat, sebagai upah dari tugas yang telah mereka lakukan dalam mengelola zakat.

Syarat-syarat Amil Zakat

Petugas zakat harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Seorang muslim. Zakat bagi kaum muslimin mempunyai nilai ibadah disamping nilai sosial. Zakat merupakan salah satu rukun agama Islam, yaitu rukun yang ketiga, dan zakat merupakan bentuk manifestasi keimanan dan ketaatan seorang muslim kepada ajaran Islam, sehingga kepengurusannya pun tidak mungkin diserahkan kepada selain muslim yang notabene mereka tidak mengimani ajaran Islam. Menurut para ulama boleh menjadikan non muslim sebagai petugas, tapi tidak secara langsung mengelola dana zakat, melainkan mereka hanya sekedar petugas penjaga atau sebagai sopir.

2. Seorang mukallaf, yaitu orang dewasa dan sehat akal fikirannya.

3. Memahami hukum-hukum zakat. Para ulama mensyaratkan petugas zakat harus memahami hukum-hukum zakat, khususnya petugas yang secara langsung bergelut dengan zakat, karena mereka yang nantinya akan mengambil, mencatat dan menyalurkan kepada para mustahik, dan semua itu membutuhkan kepada pengetahuan tentang zakat supaya tidak salah dalam perhitungan dan salah dalam penyaluran. Adapun petugas yang tidak secara langsung bergelut dengan zakat, maka tidak disyaratkan untuk mengetahui hukum-hukum zakat.

Tapi alangkah lebih baiknya merekapun mengetahui hukum-hukum standar minimal zakat, karena bagaimanapun masyarakat tetap melihat petugas tersebut adalah petugas zakat. Pemahaman terhadap hukum-hukum zakat bagi seorang petugas zakat disebuah lembaga pengelola zakat akan sangat mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut. Ketika kita sebagai petugas zakat tidak mengetahui suatu hukum zakat yang ditanyakan oleh masyarakat, maka masyarakatpun akan bertanya-tanya, bagaimana para petugas zakat akan mengelola dana zakat, sedangkan mereka sendiri tidak tahu tentang zakat ?

4. Jujur dan amanah. Kejujuran dan amanah adalah dua hal yang harus dimiliki oleh seorang petugas zakat. Karena mereka sehari-harinya akan berhubungan dengan dana zakat yang tidak sedikit. Kejujuran dan amanah juga akan sangat mempengaruhi kepercayaan masyarakat. Jika dihadapan masyarakat para petugas zakat memperlihatkan sifat jujur dan amanah, maka masyarakat akan memberikan kepercayaannya kepada lembaga pengelola zakat dimana petugas zakat itu berada, yang dampaknya mereka akan semakin tenang untuk menyalurkan zakatnya kepada lembaga tersebut, Begitupun sebaliknya.

5. Sanggup dan mampu melaksanakan tugas. Disamping syarat-syarat yang telah disebutkan diatas, seorang petugas zakat juga harus mampu melaksanakan tugas, dalam artian kompeten dengan tugas yang diembannya baik dari segi fisik maupun keilmuan dan pengetahuan. Allah menceritakan kisah nabi Yusuf yang berkata kepada raja, “ Jadikanlah aku bendaharawan negara (mesir) karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” Kata menjaga (hifzu) berarti kata kerja yang berhubungan dengan kemampuan dari segi fisik. Sedangkan kata alim, berarti mempunyai ilmu dan berpengetahuan.

Yang harus diperhatikan oleh lembaga pengelola zakat
1. Kelembagaan
- Sistem
- Visi Misi
- Aliansi Strategis
- Susunan Organisasi
- Program
- Legalitas
- Rencana Kerja
- Evaluasi Kerja
- Sosialisasi
- Publikasi
2. SDM
- Jujur dan Amanah
- Kompeten dan Kapabel
- Kreatif dan Inovatif
- Comunication skill
- Manajerial Skill
- Leadership Skill
- Teamwork Building
- Negotiation Skill
- Making Decision
3. Muallaf
Muallafah qulubuhum sebagaimana yang tercantum dalam ayat Al-Qur’an menurut para ulama diperuntukkan untuk dua jenis orang, yaitu kafir dan muslim dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
1. Orang kafir
- Orang kafir yang diharapkan masuk Islam. Mereka diberi zakat untuk mendorong mereka agar masuk Islam sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Saw kepada Sofwan Bin Umayyah pada saat ia masih kafir.
- Orang yang dikhawatirkan kejelekan atau kejahatannya dengan harapan pemberian zakat tersebut menghentikan kejahatannya.

2. Orang Islam
- Golongan yang baru memeluk Islam. Zakat diberikan kepada mereka dalam rangka memperkuat dan menambah keyakinan mereka terhadap Islam.
- Orang Islam yang lemah imannya dan dikhawatirkan akan menjadi murtad
- Pemimpin dan tokoh masyarakat yang telah memeluk Islam yang masih mempunyai sahabat-sahabat orang kafir. Dengan memberi mereka zakat, diharapkan dapat menarik simpati sahabat-sahabatnya yang masih kafir untuk memeluk Islam. Diceritakan bahwa Abu Bakar pernah memberi zakat kepada Adi Bin Hatim dan Zibriqan Bin Badr, padahal keduanya muslim yang taat, akan tetapi mereka mempunyai posisi terhormat dikalangan masyarakatnya (Tafsir Al-Manar)

Menurut pakar zakat Didin Hafidhuddin, pada saat sekarang bagian muallaf dapat diberikan kepada lembaga-lembaga da’wah yang mengkhususkan garapannya untuk menyebarkan Islam didaerah-daerah terpencil dan disuku-suku terasing yang belum mengenal Islam. Juga dapat dialokasikan pada lembaga-lembaga da’wah yang bertugas melakukan balasan dan jawaban dalam rangka mengcounter pemahaman-pemahaman buruk tentang Islam yang dilontarkan oleh misi-misi agama tertentu yang kini sudah semakin merajarela, Juga dapat diberikan kepada lembaga-lembaga yang biasa melakukan training-training keIslaman bagi orang-orang yang baru masuk Islam, Atau juga untuk mencetak berbagai brosur dan media informasi lainnya yang dikhususkan bagi mereka yang baru masuk Islam.

4. Riqab (memerdekakan budak)

Hendaklah zakat difungsikan untuk membebaskan budak. Disamping dengan zakat Islam berusaha untuk mengentaskan kemiskinan, juga berusaha untuk membebaskan perbudakan, dan sarana-sarana yang ada dalam Islam untuk membebaskan budak bukan hanya dengan zakat saja, tapi juga ada sarana-sarana lainnya seperti kifarat sumpah. Sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 89 :
“ …Maka kafarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang budak…”
Juga dalam kifarat dzihar, sebagaimana yang tercantum dalam surah Al Mujadilah ayat 3 :

“Orang-orang yang menzihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, mak (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur….”
Menurut para ulama, bahwa cara membebaskan perbudakan ini biasanya dilakukan dengan dua cara :

1. Pembebasan diri hamba mukatab, yaitu budak yang telah membuat kesepakatan dan perjanjian dengan tuannya, bahwa dia sanggup membayar sejumlah harta (misalnya uang) untuk membebaskan dirinya. Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT dalam surah Annur ayat 33 :


Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetaui ada kebaikan pada diri mereka, dan berikanla kepada mereka sebagian harta yang dikaruniakan Alla kepada kamu…”
2. Uang zakat yang terkumpul dari para muzakki, dengan uang zakat itu kemudian dipakai untuk membeli dan membebaskan budak.

Ada sebagian masyarakat yang salah persepsi tentang golongan ini dalam konteks kontemporer. Mereka menganggap bahwa tenaga kerja (TKI) berhak untuk mendapatkan zakat dengan dianalogikan kepada golongan ini. sebenarnya jika TKI tersebut tidak mampu dari segi keuangan sedangkan dia sendiri mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, maka ia diberikan zakat atas nama golongan fakir miskin dan bukan dari golongan Riqab. Jika ia memerlukan uang untuk pulang ke tanah airnya dikarenakan ada suatu hal, maka ia boleh dibantu atas nama Ibnu Sabil.

Jika kita menganggap bahwa TKI berhak mendapatkan zakat dengan dianalogikan kepada golongan Riqab, maka akan banyak sekali dana zakat yang disalurkan kepada orang yang tidak seharusnya menerima zakat. Karena banyak sekali diantara TKI, mereka pulang ketanah air dengan membawa uang yang tidak sedikit sehingga mereka tidak perlu dibantu dari dana zakat. Bahkan banyak diantara mereka yang lebih layak disebut muzakki dari pada disebut mustahik. Dana zakat diberikan hanya untuk para TKI yang memang sangat membutuhkan, itupun diambil atas nama fakir miskin, karena keadaan mereka yang miskin.

Menurut DR. Husayn Syahatah dalam bukunya yang berjudul Akuntansi Zakat, termasuk kategori pembebasan budak dalam konteks kontemporer adalah membantu pembebasan tawanan muslim dari tangan kaum kafir, disamping dalam pembebasan tersebut terdapat penjagaan terhadap kehormatan Islam dan penjagaan kaum muslimin dari kaum kafir.


5. Gharimin (orang yang berhutang)
Menurut Abu Hanifah, gharim adalah orang yang mempunyai hutang, dan dia tidak memiliki bagian yang lebih dari hutangnya.

Menurut Imam Malik, Syafi’I dan Ahmad, bahwa orang yang mempunyai hutang terbagi kepada dua golongan. Pertama, orang yang mempunyai hutang untuk kemaslahatan diri dan keluarganya. Kemaslahatan ini adalah kemaslahatan yang digunakan untuk kebutuhan pokok bagi diri dan keluarganya, seperti kebutuhan makan, kebutuhan akan pakaian, untuk pengobatan, pendidikan dan kebutuhan pokok lainnya. Kedua, orang yang berutang untuk kemaslahatan umum. Contohnya orang yang mendamaikan dua pihak yang bersengketa, tetapi membutuhkan dana yang

Dikirim pada 17 Agustus 2009 di


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Oleh: Al Akh Iskandar Zulkarnaen

SUMBER-SUMBER ZAKAT
Sumber zakat merupakan harta yang menjadi objek zakat. Sumber zakat dibagi menjadi dua bagian, yang pertama sumber zakat terdahulu, dan yang kedua adalah sumber zakat kontemporer. Sumber zakat terdahulu yaitu sumber zakat yang pernah ada pada zaman Rosulullah, seperti zakat emas dan perak, zakat perdagangan, zakat pertanian, zakat rikaz, dan lain sebagainya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rosulullah dalam berbagai hadits.

Adapun sumber zakat kontemporer adalah sumber zakat yang tidak ada pada zaman Rosulullah, tapi para ulama memasukannya kedalam sumber zakat yang harus dikeluarkan zakatnya dengan jalan analogi atau qiyas kepada sumber zakat yang pernah ada pada zaman Rosulullah.

Dalam hal ini para ulama khususnya para ulama kontemporer memasukan sumber zakat kontemporer kedalam salah satu sumber zakat bukannya tanpa alasan dan bukannya tanpa didukung dengan dalil. Mereka telah berijtihad dalam hal ini dan merekapun mengemukakan dalil-dalil baik itu dalil aqli (dalil berdasarkan logika) ataupun dalil naqli (dalil berdasarkan nash). Untuk itu kami menyimpulkannya kedalam beberapa point :

1. Berpegang pada prinsip bahwa dalil (nash) berlaku umum selama tidak ada dalil yang menyatakan kekhususannya.

Kebanyakan dalil-dalil agama berbentuk pernyataan-pernyataan umum, supaya lingkup pengertiannya mengenai orang-orang atau bagian-bagian yang banyak. Inilah rahasia yang menjadikan Islam abadi dan sesuai untuk setiap zaman dan tempat.

Dalam hal dalil yang berhubungan dengan sumber zakat kontemporer ini adalah keumuman nash yang dinyatakan oleh Allah dalam beberapa ayat al-Qur’an, seperti firman Allah dalam surah at-Taubah ayat 103 : “Pungutlah dari harta mereka sedekah (zakat).” Atau sabda Rosulullah dalam sebuah hadits : “Tunaikanlah zakat dari harta kekayaan kalian.”

Dari kedua dalil tersebut telah dijelaskan bahwa harta yang kita miliki haruslah kita tunaikan zakatnya. Dan harta yang disebutkan disini dinyatakan secara umum, yaitu semua harta. Jadi apakah harta tersebut dari perdagangan yang kita usahakan, dari pertanian yang kita tanam, dari peternakan hewan-hewan ternak, dari profesi kita sebagai karyawan, dari keuntungan harta yang kita investasikan, ataupun dari harta lainnya, harus dikeluarkan zakatnya.

Sayyid Qutb dalam tafsirnya fi zilaalil Qur’an ketika menafsirkan firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 267 menyatakan bahwa nash ini mencakup segala hasil usaha manusia yang baik dan mencakup seluruh yang dikeluarkan Allah dari dalam dan dari atas bumi,seperti hasil pertanian maupun hasil pertambangan seperti minyak. Karena itu nash ini mencakup semua harta, baik yang ada pada zaman Rosulullah maupun pada zaman sesudahnya, semua wajib dikeluarkan zakatnya dengan ketentuan dan kadar sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rosulullah dalam sabdanya, ataupun yang dianalogikan kepada sumber zakat yang telah ada.

Al-Qurtubi, dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkaam Al-Qur’an menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata-kata hakkum ma’lum (hak yang pasti) pada surah Az-Zariyat adalah zakat yang diwajibkan. Artinya semua harta yang dimiliki dan semua penghasilan yang didapatkan jika telah memenuhi persyaratan kewajiban zakat, maka harus dikeluarkan zakatnya.

2. pendapat para ulama

Banyak sekali diantara ulama, khususnya ulama kontemporer yang mengetahui perkembangan zamannya, memasukkan sumber ekonomi modern kedalam sumber zakat, seperti halnya Syekh Yusuf Qardhawi. Disamping itu dalam Muktamar Internasional pertama tentang zakat yang diadakan di Quwait (29 Rajab 1404 H atau bertepatan dengan tanggal 30 April 1984 M) yang dihadiri oleh para ulama dari berbagai negara, mereka telah bersepakat tentang wajibnya zakat profesi yang merupakan sumber zakat kontemporer.

3. Dari sudut keadilan

Keadilan adalah salah satu ciri utama agama Islam. Dari sekian banyaknya hukum-hukum Islam, tidak ada satupun yang bertentangan dengan prinsip keadilan. Dimana ada hukum Islam ditegakkan, disitulah keadilan ditegakkan. Dan setiap hukum yang diturunkan oleh Allah, pasti didalamnya telah membawa prinsip-prinsip keadilan.

Dalam konteks zakat, Islam tidak mungkin hanya mewajibkan zakat hanya kepada sebagian sumber zakat saja, sedangkan sumber-sumber lainnya tidak diwajibkan dengan alasan tidak adanya contoh dari Rosulullah padahal bisa jadi sumber yang tidak diwajibkan tersebut potensinya lebih besar dari sumber zakat yang diwajibkan.

Sebagai contoh, pada saat sekarang ini para petani yang merupakan kaum yang mayoritas tersisihkan, khususnya diIndonesia, dan mempunyai penghasilan yang tidak lebih dari cukup bahkan kurang, mereka wajib menunaikan zakat apabila telah mencapai nishab. sedangkan para direktur, para manajer yang bekerja diperusahaan-perusahaan, para pengacara, para dokter, para pejabat pemerintah yang mempunyai gaji atau penghasilan yang jauh berlipat-lipat dari para petani, mereka tidak diwajibkan menunaikan zakat dengan alasan tidak adanya contoh dan penjelasan tentang hal itu dari Rosulullah.

Untuk itu, akan dirasa sangat adil apabila zakat diwajibkan juga atas sumber-sumber zakat kontemporer seperti yang telah disebutkan diatas. Disamping itu, jika pada zaman Rosulullah sudah terdapat sumber-sumber ekonomi modern seperti yang ada pada zaman sekarang ini yang notabene potensinya sangat besar, tentu Rosulullah akan memasukannya sebagai sumber zakat.

4. Dari sudut maslahat

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kegiatan ekonomi dari waktu ke waktu telah mengalami perubahan-perubahan dan kemajuan-kemajuan. Kita melihat sekarang ini khususnya dinegara-negara maju, kegiatan ekonomi modern sudah menjadi kegiatan ekonomi yang utama, sehingga penghasilan terbesar dari sekian banyak kegiatan ekonomi adalah dari kegiatan ekonomi modern, sehingga potensi yang dimilikinya pun merupakan potensi yang terbesar.

Dengan besarnya potensi penghasilan dari kegiatan ekonomi modern ini, maka umat Islam dapat memanfaatkannya untuk membantu dan memberdayakan umat yang memang pada saat ini sangat membutuhkan. Bisa dibayangkan apabila kita dapat mengoptimalkan potensi zakat yang luar biasa besar ini, akan banyak sekali manfaat dan maslahat yang dapat diperoleh untuk membina dan memberdayakan umat yang memang pada saat ini sangat membutuhkannya.

Afif Abdul Fatah Thabari dalam Ruuh Ad-Diin Al-Islamy, Damaskus, Daar el-Fikr,1966, hal.300 menyatakan bahwa aturan dalam Islam bukan saja sekedar berdasarkan pada keadilan bagi seluruh umat manusia, akan tetapi sejalan dengan kemashlahatan dan kebutuhan hidup manusia sepanjang zaman dan keadaan, walaupun zaman itu berbeda dan berkembang dari waktu ke waktu.


5. Bukti akan aspiratif dan responsifnya agama Islam

Setiap saat dari waktu ke waktu dunia selalu mengalami perubahan, termasuk dalam hal ini adalah kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi dari hari ke hari semakin mengalami kemajuan yang pesat. Banyak sekarang ini bentuk-bentuk kegiatan ekonomi yang tidak terdapat pada zaman-zaman sebelumnya. Dengan dimasukannya kegiatan ekonomi modern kedalam sumber zakat, membuktikan bahwa hukum Islam sangat responsif dan aspiratif terhadap perkembangan zaman.

Pada masa-masa yang akan datang, boleh jadi sumber-sumber zakat yang ada pada zaman Rosulullah seperti pertanian, peternakan, yang potensi zakatnya sangat besar juga yang berprofesi sebagai petani dan peternak merupakan orang-orang kaya, akan tersisihkan dan bukan menjadi kegiatan ekonomi yang utama, dan digantikan oleh kegiatan ekonomi modern, dan hal ini bahkan telah terjadi pada masa sekarang.

Jika kita hanya menganggap bahwa sumber zakat hanyalah sumber zakat yang ada pada zaman Rosulullah saja, dikhawatirkan zakat yang salah satu fungsinya adalah mengentaskan kemiskinan (fakir miskin adalah mustahik zakat yang pertama kali disebutkan dalam al-Qur’an) tidak akan dapat diwujudkan, karena melihat kenyataan yang ada bahwa sebagian sumber zakat yang ada pada zaman Rosulullah, sekarang ini sudah bukan menjadi kegiatan ekonomi unggulan dengan potensinya yang tidak begitu besar.

Juga jika kegiatan ekonomi yang menjadi sumber zakat pada zaman Rosulullah kemudian pada zaman yang akan datang hilang, lantas kita akan menghilangkan kewajiban zakat dari hukum Islam dengan mempertahankan argumen bahwa semua itu tidak ada contohnya dari Rosulullah ?

Zakat adalah salah satu rukun Islam yaitu rukun yang ketiga. Dalam setiap ayat yang ada dalam al-Qu’ran, Allah selalu menggandengkan zakat dengan shalat, dan ini menjadi bukti bahwa zakat adalah salah satu perangkat penting yang ada dalam Islam. Zakat merupakan perangkat dalam Islam yang abadi dan berlaku sampai akhir zaman sebagaimana halnya shalat.

Disamping itu, para sahabat, para tabi’in dan para ulama sesudahnya telah mewajibkan untuk dikeluarkan zakatnya dari hal-hal yang tidak diwajibkan oleh Rosulullah, seperti zakat atas kuda yang diberlakukan oleh Umar Bin Abd Aziz, padahal Rosulullah tidak mewajibkan zakat atas kuda. Umar Bin Abdul Aziz memberlakukan zakat atas kuda setelah beliau mengetahui bahwa harga seekor kuda sama dengan harga seratus ekor unta betina. Begitupun dengan Ibnu Mas’ud dan Muawiyyah yang mewajibkan zakat atas sumbangan, padahal Rosulullah tidak menerangkan hal tersebut.(masalah ini akan dibahas lebih lanjut lagi dalam pembahasan “memfungsikan analogi”)

Dengan tidak diberlakukannya zakat pada kegiatan-kegiatan ekonomi modern hanya akan semakin merangsang manusia untuk selalu menumpuk hartanya dengan alasan tidak adanya kewajiban dari harta yang harus mereka tunaikan

6. Memfungsikan Analogi (Qiyas)

Dalam buku Fiqhuzzakah karya syekh Yusuf Qardhawi disebutkan bahwa Analogi adalah memberikan hukum yang sama kepada sesuatu karena illat (sebab) yang sama, dan ini merupakan suatu hal yang dikaruniakan Allah kepada akal dan fitrah manusia. menurut Ibnu Qoyyim, analogi adalah alat ukur yang diturunkan oleh Allah seiring dengan Qur’an dan merupakan saudara kandung dan pendukung Qur’an tersebut.

Analogi dilakukan ketika adanya sesuatu yang membutuhkan kepada kejelasan hukum, karena melihat adanya faktor maslahat atau madharat, dan hal tersebut belum ada ketetapan hukumnya disebabkan karena pada zaman Rosulullah belum adanya hal seperti itu. Sebagai contoh, pada zaman sekarang ini ada sesuatu yang disebut dengan Ekstasi. Ekstasi ini adalah obat yang dapat memabukkan dan memberikan dampak yang buruk pada tubuh yang belakangan ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat.

Mereka mengatakan bahwa dengan ekstasi mereka bisa merasakan ketenangan. Jika kita tidak melakukan analogi, maka ekstasi yang hukumnya haram, yang memabukan dan memadharatkan badan, akan menjadi halal dengan alasan bahwa hal tersebut tidak dilarang oleh Rosulullah karena memang pada zaman Rosulullah belum ada yang disebut dengan ekstasi.

Kita tidak mungkin mengatakan bahwa ekstasi yang sudah jelas memabukkan dan memadharatkan itu halal dengan alasan bahwa tidak adanya hukum yang melarangnya. Disinilah para ulama melakukan analogi dalam rangka memberikan penjelasan hukum atas ekstasi dengan menyamakan illat dengan hukum yang sudah ada. Dalam hal ekstasi ini para ulama dapat menganalogikannya kepada sesuatu yang sudah ada hukumnya, yaitu khamr atau minuman keras dengan mengambil illat atau sebab yang sama diantara kedua hal tersebut.

Disini adanya kesamaan illat antara keduanya yaitu, pertama, khamr diharamkan dengan sebab memabukkan. Begitupun dengan ekstasi, unsur kimia yang terdapat dalam ekstasi dapat memabukkan sebagaimana halnya alkohol. Kedua, khamr diharamkan dengan sebab memadharatkan atau memberikan kerusakan pada badan.

Begitupun dengan ekstasi, zat kimia yang terdapat didalamnya dapat merusakkan tubuh dan dapat membinasakannya, padahal Allah sendiri telah melarang manusia membawa diri kepada kebinasaan, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat Al Baqarah ayat 195 :

“Dan belanjakanlah di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Maka akhirnya hukum ekstasipun menjadi jelas dengan sebab analogi ini. dan itupun bukan hanya ekstasi saja, tapi juga hal-hal lainnya yang mengandung illat yang sama, seperti; morfin, ganja, opium, shabu-shabu, dan lain sebagainya.

Dalam konteks zakat, memang ada yang tidak setuju dengan adanya analogi dalam masalah zakat dengan alasan bahwa zakat itu adalah ibadah, dan tidak ada tempat untuk analogi dalam ibadah. Memang benar bahwa dalam ibadah murni tidak boleh adanya analogi, karena ibadah adalah sesuatu yang dilakukan murni karena menjalankan perintah Allah tanpa melihat sebab atau manfaat yang terkandung didalamnya. untuk itu ibadah-ibadah ritual seperti shalat, puasa dan haji tidak mungkin disentuh oleh analogi.

Tapi zakat adalah hal lain, Zakat adalah suatu kewajiban yang ada hubungannya dengan harta yang merupakan hak orang lain yang harus ditunaikan. Allah telah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa dalam harta kita terdapat hak fakir miskin, hak orang yang meminta-minta, dan hak orang yang tidak mendapatkan bagian. Allah tidak mengkhususkan harta yang menjadi hak fakir miskin dan yang lainnya hanya pada harta-harta tertentu saja, sedangkan sebagian harta lainnya tidak, tapi Allah menyebutkannya secara umum, apapun itu bentuk harta kita, kita harus menunaikan apa yang menjadi hak mereka.

Jadi, zakat adalah ibadah dan muamalah yang menyangkut hubungan sosial antar manusia. Disebut ibadah karena memang zakat adalah kewajiban yang telah disyariatkan oleh Allah untuk dilaksanakan oleh kaum muslimin, dan setiap kewajiban yang disyariatkan oleh Allah adalah merupakan ibadah. Disebut muamalah karena zakat adalah suatu bentuk ibadah yang mempunyai peran dalam hubungan sosial antar masyarakat. Maka dari itu, banyak para ulama khususnya para ulama kontemporer memasukkan zakat dalam kitab-kitab fiqh mereka kedalam bab muamalah dan bukan dalam bab ibadah.

Masalah analogi ini sebenarnya telah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita, mulai dari para sahabat, para tabi’in, dan para ulama sesudahnya. Sebagai contoh adalah Umar Bin Abd Aziz yang memberlakukan zakat atas kuda berdasarkan analogi yang dilakukannya atas unta betina. Begitupun dengan zakat hasil pertanian dan buah-buahan, mayoritas ulama memberlakukan zakat kepada semua jenis hasil pertanian dan buah-buahan berdasarkan analogi, dan bukan hanya memberlakukan zakat pada hasil pertanian dan buah-buahan yang diwajibkan oleh Rosulullah saja.

Begitupun dengan Imam Syafi’I, Imam Ahmad dan sahabat-sahabatnya, mereka menganalogikan zakat fitrah berupa biji-bijian dan buah-buahan seperti gandum, kurma dan buah anggur, dengan segala yang menjadi makanan pokok suatu daerah atau makanan pokok seseorang sendiri.

SUMBER-SUMBER ZAKAT TERDAHULU

Sebagaimana yang telah diterangkan diawal, bahwa yang dimaksud dengan sumber-sumber zakat terdahulu adalah sumber-sumber zakat yang terdapat pada zaman Rosulullah dahulu, dan dinyatakan kewajiban menunaikannya berdasarkan hadits-hadits Rosulullah yang telah jelas. Untuk itu kita akan menjabarkannya satu persatu secara ringkas :

1. Zakat Emas dan Perak
Ketentuan :
a. Mencapai satu tahun
b. Mencapai nishab, 85 gr emas murni (20 dinar) atau 672 gr perak (200 dirham)
c. Besar zakat 2,5 %
d. Cara hitung zakat emas dan perak
1. Jika emas/perak tidak dipakai atau dipakainya hanya setahun sekali
emas yang dimiliki x harga emas x 2,5 %

2. Jika emas/perak dipakai
(emas yang dimiliki-emas yang dipakai) x harga emas x 2,5 %

2. Zakat Perdagangan
Ketentuan:
a. Telah mencapai satu tahun
b. Mencapai nishab 85 gr emas
c. Besar zakat 2,5 %
d. Dapat dibayar dengan barang atau uang
e. Berlaku untuk perdagangan secara individu atau badan usaha ( CV, PT, koperasi)
f. Cara Hitung Zakat Perdagangan :
( Modal yang diputar + keuntungan + piutang yang dapat dicairkan ) – (hutang & kerugian) x 2,5 %

3. Zakat Pertanian
Ketentuan :
a. Mencapai nishab 520 kg (5 wasaq) jika yang dihasilkan adalah makanan pokok
b. Jika selain makanan pokok, maka nishabnya disamakan dengan makanan pokok paling umum di daerah
c. Kadar Zakat apabila diairi dengan air hujan, sungai, atau mata air, maka 10 %
d. Kadar zakat jika diairi dengan cara disiram atau irigasi maka zakatnya 5 %
e. Zakat pertanian dikeluarkan setiap kali panen

4. Zakat Rikaz (harta terpendam/ barang temuan)
Ketentuan :
a. tanpa disyarat nishab dan haul
b. besar zakat 20 %

Penjelasan :
- yang dimaksud harta terpendam disini adalah berbagai macam harta benda yang disimpan oleh orang – orang dulu didalam tanah, seperti, emas, perak, pundi –pundi berharga dan lain – lain. para ahli fiqh menetapkan bahwa orang yang menemukan benda – benda tersebut wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 20%

- seseorang yang menemukan harta bukan dijalan umum atau bukan di daerah pemukiman, maka harus dikeluarkan zakatnya sebesar 20 %, meskipun harta itu ditemukan diatas tanah. Apabila harta tersebut ditemukan dijalan umum dan didaerah pemukiman, maka harus diumumkan selama setahun. Jika pemiliknya datang, maka harta tersebut harus diberikan kepada pemiliknya, tapi jika dalam setahun tidak ada yang datang, maka harta tersebut menjadi milik penemunya (fiqhuz Zakah, Syekh Yusuf Qardhawi)

5. Zakat Ternak
Syarat zakat ternak : (1). Sampai haul (2). Mencapai nishab (3). Digembalakan dan mendapat makanan di lapangan tempat penggembalaan terbuka (4).Tidak dipekerjakan (5). Tidak boleh memberikan ternak yang cacat dan tua (ompong) (6). Pembiayaan untuk operasional ternak dapat mengurangi dan menggugurkan zakat ternak.
6. Zakat Fitrah
Ketentuan :
a. Besarnya zakat fitrah adalah satu sha atau setara dengan 2.5 kg beras.
Menurut Abu Hanifah, boleh membayarkan sesuai dgn harga
makanan pokok
b. Orang yang wajib membayar zakat fitrah ;
Semua muslim tanpa membedakan laki-laki dan perempuan,
bayi, anak-anak dan dewasa, kaya atau miskin
c.Waktu mengeluarkan zakat fitrah :
Boleh diberikan awal bulan Ramadhan, tetapi waktu wajib zakat
fitrah adalah setelah terbenamnya matahari pada akhir bulan ramadhan atau setelah terbit fajar sampai menjelang shalat idul fitri.

Cara Membayar Fidyah

Fidyah dibayarkan bagi orang yang berhalangan (udzur) yang dibolehkan secara syar’i(sakit, sudah sepuh, dll). Jumlah pembayaran fidyah adalah sebesar satu mud atau setara dengan kira-kira dua kali makan kemudian dikalikan dengan jumlah hari tidak puasa.

SUMBER-SUMBER ZAKAT KONTEMPORER

Untuk sumber zakat kontemporer, perhitungannya adalah dengan cara analogi atau qiyas dari sumber zakat yang pernah ada pada zaman Rosulullah.

1. Zakat Penghasilan/Profesi
Zakat profesi dianalogikan oleh para ulama kepada beberapa sumber zakat :

1.1 Zakat Profesi yang dianalogikan kepada zakat pertanian
Ketentuan :
a. Mencapai nishab setara 520 kg beras
b. Besar zakat 2,5 % (besar zakat profesi yang dianalogikan kepada zakat pertanian seharusnya 5 atau 10 %, tapi menurut para ulama, karena zakat profesi dihasilkan dalam bentuk uang, maka untuk besar zakatnya sama dengan zakat uang, yaitu 2,5%)
c. Dikeluarkan setiap kali memperoleh pendapatan dari profesi, dan umumnya adalah sebulan sekali

1.2 Zakat Profesi yang dianalogikan kepada zakat emas
Ketentuan :
a. Mencapai nishab setara 85 gram emas (dalam satu tahun)
b. Besar zakat 2,5 %
c. Dikeluarkan setiap tahun atau setiap bulan

Cara hitung zakat profesi
1. Menghitung dari pendapatan kasar (brutto)
Pendapatan total x 2,5 %
2. Menghitung dari pendapatan bersih (netto)
( Pendapatan total-Pengeluaran Perbulan ) x 2,5 %

Pengeluaran per bulan adalah pengeluaran kebutuhan primer (sandang, pangan, papan ).

3. Zakat Simpanan
Ketentuan :
a. Mencapai nishab, setara dengan 85 gram emas
b. Mencapai satu tahun
c. Besar zakat 2,5%
d. Cara hitung Zakat simpanan (Tabungan /Deposito)

Saldo Akhir – Bagi Hasil/Bunga x 2,5 %

4. Zakat Saham atau Obligasi
Ketentuan :
a. Mencapai nishab, setara dengan 85 gr emas murni
b. Mencapai satu tahun
c. Besar zakat 2,5 %
d. Cara hitung Zakat Saham atau Obligasi

(jumlah lembar saham) x (harga lbr saham/obligasi + dividen) x 2,5 %

5. Zakat Undian atau Kuis Berhadiah
Ketentuan :
a. Undian atau kuis yang tidak mengandung unsur judi
b. Karena diidentikkan dengan harta temuan (rikaz) maka besar zakat 20%
c. Tanpa disyaratkan mencapai nishab dan haul

6. Zakat Investasi
Zakat Investasi adalah zakat yang dikeluarkan terhadap harta yang diperoleh dari hasil investasi. Misalnya rumah, bangunan, atau kendaraan yang disewakan.

Ketentuan :
a. Zakat yang dibayarkan adalah penghasilan dari hasil yang dinvestasikan, tidak termasuk modal
b. Mencapai nishab setara dengan 85 gr emas murni (analogi zakat emas) atau 520 kg beras (analogi zakat pertanian)
c. Berdasarkan analogi zakat pertanian, besar zakat 5 % jika biaya untuk perawatan atau pemeliharaan belum dihitung (brutto), dan besar Zakat 10 % jika biaya untuk perawatan atau pemeliharaan sudah dihitung (netto)
d. Berdasarkan analogi zakat emas, besar zakat 2,5 %
e. Berdasarkan analogi zakat pertanian, zakat dikeluarkan setiap kali mendapatkan hasil, atau berdasarkan umumnya dimasyarakat yaitu setiap bulan, dan berdasarkan analogi zakat emas, zakat dikeluarkan setiap tahun.

7. Zakat hadiah dan Sejenisnya
Ketentuan :
1. Jika hadiah tersebut terkait dengan gaji (komisi) maka
Ketentuannya sama dengan zakat profesi dan dikeluarkan pada saat menerima hadiah yang digabungkan dengan zakat profesi.besar Zakat yang dikeluarkan 2.5%.
2. Jika hadiah yang tidak terkait dengan gaji atau komisi, maka besar zakat 20 %

Dikirim pada 17 Agustus 2009 di

Oleh: Al Akh Iskandar Zulkarnaen
SYARAT KEKAYAAN WAJIB ZAKAT
1. Baik dan halal
Dalil Al Qur’an : Al Baqarah ayat 267

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Dalil hadist : dalam shahih bukhari terdapat satu bab yang menguraikan bahwa sedekah atau zakat tidak akan diterima dari harta yang ghulul, dan tidak akan diterima pula kecuali dari hasil usaha yang halal dan bersih.

Memang masih ada sebagian orang yang mengatakan bahwa sayang jika zakat tidak dipungut dari penghasilan meskipun penghasilan yang tidak halal seperti dari judi dan penjualan minuman keras, karena menurut mereka potensi dari penghasilan tersebut besar dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan ummat. Memang benar akan ada manfaat yang akan didapat dengan memungut zakat dari penghasilan seperti judi dan penjualan minuman keras, namun manfaat yang diterima lebih kecil dibanding dengan mudharat yang ditimbulkannya.

Dengan memungut zakat dari penghasilan judi dan penjualan minuman keras, seolah-olah agama melegalkan judi dan minuman keras, sehingga dampaknya akan semakin banyak orang yang melakukan perjudian dan menjual minuman keras, kemudian untuk membersihkan hartanya (karena penghasilan mereka dari sesuatu yang haram) mereka hanya cukup dengan mengeluarkan zakat.

2. Berkembang dan berpotensi untuk berkembang
Dalam terminologi fiqhiyyah, menurut syaikh Yusuf Qardhawi, pengertian berkembang itu terdiri dari dua macam : yaitu yang konkrit dan tidak konkrit. Yang konkrit dengan cara dikembangkan, baik dengan investasi, diusahakan dan diperdagangkan. Yang tidak konkrit, yaitu harta itu berpotensi untuk berkembang, baik yang berada ditangannya maupun yang berada ditangan orang lain tetapi atas namanya. Adapun harta yang tidak berkembang seperti rumah yang ditempati, kendaraan yang digunakan, pakaian yang dikenakan, alat-alat rumah tangga, itu semua merupakan harta yang tidak wajib dizakati kecuali menurut para ulama jika semua itu berlebihan dan diluar kebiasaan, maka dikeluarkan zakatnya.

1. Mencapai Nishab
Nishab adalah batasan antara apakah kekayaan itu wajib zakat atau tidak. Jika harta yang dimiliki seseorang telah mencapai nishab, maka kekayaan tersebut wajib zakat, jika belum mencapai nishab, maka tidak wajib zakat. Batasan nishab itu sendiri antara sumber zakat yang satu dengan sumber zakat lainnya berbeda satu sama lain. Seperti nishab zakat pertanian adalah lima wasaq, nishab zakat emas dua puluh dinar, nishab zakat perak dua ratus dirham, nishab zakat perdagangan dua puluh dinar dan sebagainya.

Menurut jumhur ulama, nishab adalah salah satu syarat kekayaan wajib zakat. Berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhori dari Abu Said bahwa Rosulullah bersabda :
“ tidak wajib zakat pada tanaman kurma yang kurang dari lima ausaq. Tidak wajib zakat dari perak yang kurang dari lima awaq, tidak wajib zakat pada unta yang kurang dari lima ekor”.

Disamping itu Rosulullah juga bersabda : “Zakat hanya dibebankan atas orang kaya” Riwayat Bukhori. Dan nishab merupakan batasan orang kaya yang wajib zakat, dan orang miskin yang tidak wajib zakat.

2. Mencapai Haul
Salah satu syarat kekayaan wajib zakat adalah haul, yaitu kekayaan yang dimiliki seseorang apabila sudah mencapai satu tahun hijriyah, maka wajib baginya mengeluarkan zakat apabila syarat-syarat lainnya telah terpenuhi. Syarat haul ini tidak mutlak, karena ada beberapa sumber zakat seperti zakat pertanian dan zakat rikaz tidak harus memenuhi syarat haul satu tahun. Zakat pertanian dikeluarkan zakatnya setiap kali panen, sedangkan zakat rikaz dikeluarkan zakatnya ketika mendapatkannya. Adapun sumber-sumber zakat yang harus memenuhi syarat haul yaitu seperti zakat emas dan perak, perdagangan dan peternakan.

Namun menurut sebagian ulama, sumber-sumber zakat yang telah disebutkan diataspun tidak muklak harus mencapai haul. Menurut mereka, jika sumber zakat tersebut telah mencapai nishab maka boleh dikeluarkan zakatnya meskipun belum mencapai haul.

Penetapan syarat haul ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ali Bin Abi Thalib, bawasannya Rosulullah bersabda :
”jika anda memiliki dua ratus dirham dan telah berlalu waktu satu tahun, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebanyak lima dirham. Anda tidak mempunyai kewajiban apa-apa hingga anda hingga anda memiliki dua puluh dinar dan telah berlalu waktu satu tahun, dan anda harus berzakat sebanyak setengah dinar. Jika lebih, maka dihitung berdasarkan kelebihannya. Dan tidak ada zakat pada arta hingga berlalu waktu satu tahun.”
(Abu Daud, (Riyadh: Daar el-Salam,2000), hal.128)

3. Lebih dari kebutuhan pokok
Menurut para ulama yang dimaksud dengan kebutuhan pokok adalah kebutuhan yang jika tidak terpenuhi akan menyebabkan kerusakan dan kemelaratan dalam hidup. Para ulama khususnya para ulama mazhab Hanafi telah memasukan syarat ini sebagai syarat kekayaan wajib zakat karena biasanya orang yang mempunyai kelebihan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya maka orang tersebut dianggap mampu dan kaya. Adapun alasan para ulama tersebut adalah firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 219. Allah berfirman :
“….dan mereka bertanya kepadamu tentang apa yang akan mereka nafkahkan. Katakanlah : ‘yang lebih dari keperluan’…”

Kebutuhan pokok yang dimaksud ini meliputi, makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan dan pendidikan. Makanan merupakan kebutuhan pokok karena dengan makanan manusia bisa hidup, dengan makanan juga manusia mampu untuk melakukan berbagai aktifitas baik aktifitas ibadah, ataupun aktifitas pekerjaan, karena makanan merupakan sumber energi. Jika manusia tidak mendapatkan makanan dalam hidupnya, maka hal ini akan menyebabkan kerusakan dan kebinasaan. Untuk itulah makanan menjadi kebutuhan pokok bagi manusia.

Pakaian merupakan kebutuhan pokok manusia, karena dengan pakaian ini manusia dapat menutup aurat tubuhnya, dan dapat menjaga kondisi tubuh dari cuaca. Tempat tinggal merupakan kebutuhan pokok bagi manusia, karena tempat tinggal akan menjaga dan melindungi manusia dari teriknya matahari, dari derasnya hujan, dari tiupan angin yang kencang, dan tempat tinggal juga akan melindungi dan menjaga barang-barang berharga yang dimiliki oleh manusia. Kesehatan menjadi kebutuhan pokok manusia karena dengan kesehatan manusia dapat menjaga tubuh dari kerusakan, dengan kesehatan manusia dapat terhindar dari berbagai penyakit yang dapat membinasakan, dan Allah sendiri telah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa manusia janganlah membawa dirinya kedalam kebinasaan. Pendidikan menjadi kebutuhan pokok manusia, karena kebodohan sama artinya dengan kehancuran dan kebinasaan.

Menurut sebagian ulama, apabila kebutuhan pokok melampaui batas dari yang semestinya, misalnya stok makanan yang berlebihan, pakaian yang dimiliki diluar semestinya, memiliki rumah dan kendaraan yang banyak, dan sebagainya, maka kelebihan yang dimiliki dari kebutuhan pokok tersebut harus dikeluarkan zakatnya. Sebagai contoh, kita memiliki lima buah rumah, sedangkan secara umum rumah yang menjadi kebutuhan manusia hanyalah satu buah rumah, maka sisa dari rumah tersebut yang diluar kebutuhan, harus dikeluarkan zakatnya. Karena jika tidak diwajibkan zakat atas kelebihan kebutuhan manusia, maka manusia akan menumpuk kekayaannya dalam bentuk rumah, kendaraan, dan sebagainya sebagai upaya untuk menghindar dari kewajiban zakat.

4. Bebas dari hutang
Syarat ini merupakan penguat syarat kekayaan wajib zakat yang harus merupakan kepemilikan penuh. Karena dengan adanya hutang, berarti harta yang kita miliki masih bercampur harta milik orang lain, maka apabila kita ingin mengeluarkan zakat sedangkan kita masih mempunyai hutang, maka harus kita lunaskan terlebih dahulu hutang-hutang yang kita miliki, dengan syarat bahwa hutang tersebut adalah hutang yang jatuh tempo, artinya jika kita ingin mengeluarkan zakat misalnya pada bulan ini, sedangkan bulan ini ada hutang yang harus kita lunasi, maka kita harus terlebih dahulu melunasi hutang yang jatuh tempo tersebut.

Apabila setelah dibayarkan hutang-hutangnya tapi kekayaannya masih mencapai nishab, maka wajib untuk mengeluarkan zakat, tapi sebaliknya apabila tidak mencapai nishab setelah dilunasinya hutang-hutang, (meskipun sebelum dilunasinya hutang harta kita telah mencapai nishab), maka tidak wajib mengeluarkan zakat.

5. Milik penuh
Harta yang akan dikeluarkan zakatnya haruslah murni harta pribadi dan tidak bercampur dengan harta milik orang lain. Jika dalam harta kita bercampur dengan harta milik orang lain sedangkan kita akan mengeluarkan zakat, maka harus dikeluarkan terlebih dahulu harta milik orang lain tersebut. Jika setelah dikeluarkan dan dipisahkan harta milik orang lain kemudian harta kita masih diatas nishab, maka wajib zakat. Dan sebaliknya, jika kemudian harta kita tidak mencapai nishab, maka tidak wajib mengeluarkan zakat.

Adapun yang menjadi alasan penetapan syarat ini adalah :

1. Bahwasannya didalam Alqur’an Allah telah menetapkan kepemilikan yang jelas dalam mengeluarkan zakat dengan menyebutkan “harta mereka” atau “harta kamu”. Seperti firman Allah dalam surah Al Ma’arij ayat 24-25 dan surat At-Taubah ayat 103.

Disamping alasan dari Al Qur’an, ada juga hadits yang menerangkan hal yang sama, yaitu hadits dari Mu’az Bin Jabal, ketika Rosulullah mengutusnya ke Yaman, beliau bersabda kepadanya : “…. Maka beritahukanlah kepada mereka, bahwa Allah mewajibkan pada harta mereka zakat, yang diambil dari orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir dari mereka.”

2. Zakat adalah pemberian kepemilikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam surat At-Taubah ayat 60, dan pemberian kepemilikan haruslah ada unsur memiliki, karena bagaimana mungkin seseorang memberikan kepemilikan kepada orang lain, sedangkan ia sendiri bukanlah pemiliknya.

www.rumahzakat.org


Dikirim pada 17 Agustus 2009 di


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Oleh: Al Akh Iskandar Zulkarnaen
MAKNA ZAKAT
Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan apabila telah memenuhi syarat – syarat yang telah ditentukan oleh agama, dan disalurkan kepada orang–orang yang telah ditentukan pula, yaitu delapan golongan yang berhak menerima zakat sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60 :


“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .”

Zakat dalam bahasa Arab mempunyai beberapa makna :

Pertama, zakat bermakna At-Thohuru, yang artinya membersihkan atau mensucikan. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu menunaikan zakat karena Allah dan bukan karena ingin dipuji manusia, Allah akan membersihkan dan mensucikan baik hartanya maupun jiwanya. Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 103 :

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Kedua, zakat bermakna Al-Barakatu, yang artinya berkah. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu membayar zakat, hartanya akan selalu dilimpahkan keberkahan oleh Allah SWT, kemudian keberkahan harta ini akan berdampak kepada keberkahan hidup. Keberkahan ini lahir karena harta yang kita gunakan adalah harta yang suci dan bersih, sebab harta kita telah dibersihkan dari kotoran dengan menunaikan zakat yang hakekatnya zakat itu sendiri berfungsi untuk membersihkan dan mensucikan harta.

Ketiga, zakat bermakna An-Numuw, yang artinya tumbuh dan berkembang. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu menunaikan zakat, hartanya (dengan izin Allah) akan selalu terus tumbuh dan berkembang. Hal ini disebabkan oleh kesucian dan keberkahan harta yang telah ditunaikan kewajiban zakatnya. Tentu kita tidak pernah mendengar orang yang selalu menunaikan zakat dengan ikhlas karena Allah, kemudian banyak mengalami masalah dalam harta dan usahanya, baik itu kebangkrutan, kehancuran, kerugian usaha, dan lain sebagainya. Tentu kita tidak pernah mendengar hal seperti itu, yang ada bahkan sebaliknya.

Selama beraktivitas di Lembaga Amil Zakat, sampai saat ini penulis belum menemukan orang –orang yang rutin menunaikan zakat kemudian berhenti dari menunaikan zakat disebabkan usahanya bangkrut atau ekonominya bermasalah, bahkan yang ada adalah orang–orang yang selalu menunaikan zakat, jumlah nominal zakat yang dikeluarkannya dari waktu ke waktu semakin bertambah besar, itulah bukti bahwa zakat sebenarnya tidak mengurangi harta kita, bahkan sebaliknya. Memang secara logika manusia, dengan membayar zakat maka harta kita akan berkurang, misalnya jika kita mempunyai penghasilan Rp. 2.000.000,- maka zakat yang kita keluarkan adalah 2,5 % dari Rp. 2.000.000,- yaitu Rp 50.000,-. Jika kita melihat menurut logika manusia, harta yang pada mulanya berjumlah Rp.2.000.000,- kemudian dikeluarkan Rp. 50.000,- maka harta kita menjadi Rp. 1.950.000,- yang berarti jumlah harta kita berkurang. Tapi, menurut ilmu Allah yang Maha Pemberi rizki, zakat yang kita keluarkan tidak mengurangi harta kita, bahkan menambah harta kita dengan berlipat ganda. Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 39 :
“Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipat gandakan .”
Dalam ayat ini Allah berfirman tentang zakat yang sebelumnya didahului dengan firman tentang riba. Dengan ayat ini Allah Maha Pemberi Rizki menegaskan bahwa riba tidak akan pernah melipat gandakan harta manusia, yang sebenarnya dapat melipat gandakannya adalah dengan menunaikan zakat.

Keempat, zakat bermakna As-Sholahu, yang artinya beres atau keberesan, yaitu bahwa orang orang yang selalu menunaikan zakat, hartanya akan selalu beres dan jauh dari masalah. Orang yang dalam hartanya selalu ditimpa musibah atau masalah, misalnya kebangkrutan, kecurian, kerampokan, hilang, dan lain sebagainya boleh jadi karena mereka selalu melalaikan zakat yang merupakan kewajiban mereka dan hak fakir miskin beserta golongan lainnya yang telah Allah sebutkan dalam Al – Qur’an.

HIKMAH ZAKAT

Ada banyak hikmah yang terkandung dengan diwajibkannya zakat :
1. Sebagai perwujudan iman kepada Allah SWT, mensyukuri nikmat-Nya, menumbuhkan akhlak mulia dengan memiliki rasa kepedulian yang tinggi, menghilangkan sifat kikir dan rakus, menumbuhkan ketenangan hidup, sekaligus mengembangkan dan mensucikan harta yang dimiliki.

2. Karena zakat merupakan merupakan hak bagi mustahik, maka berfungsi untuk menolong, membantu dan membina mereka -terutama golongan fakir dan miskin, ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak, dapat beribadah kepada Allah SWT, terhindar dari bahaya kekufuran, sekaligus menghilangkan sifat iri, dengki dan hasad yang mungkin timbul dari kalangan mereka ketika melihat golongan kaya yang berkecukupan hidupnya. Zakat, sesungguhnya bukan sekadar memenuhi kebutuhan konsumtif yang sifatnya sesaat, akan tetapi memberikan kecukupan dan kesejahteraan pada mereka, dengan cara menghilangkan atau memperkecil penyebab kehidupan mereka menjadi miskin dan menderita.

3. Sebagai pilar jama’i antara kelompok aghniya yang berkecukupan hidupnya, dengan para mujahid yang waktunya sepenuhnya untuk berjuang di jalan Allah SWT, sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk berusaha bagi kepentingan nafkah diri dan keluarganya . Allah berfirman dalam surat Al – Baqarah ayat 273 :

“kepada orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah; mereka tidak dapat di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan , maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.”

4. Sebagai salah satu sumber dana bagi pembangunan sarana maupun prasarana yang harus dimiliki ummat Islam, seperti sarana pendidikan, kesehatan, maupun sosial ekonomi dan terlebih lagi bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

5. Untuk memasyarakatkan etika bisnis yang benar, karena zakat tidak akan diterima dari harta yang didapatkan dengan cara bathil. Zakat mendorong pula ummat Islam untuk menjadi muzakki yang sejahtera hidupnya.
6. Dari sisi pembangunan kesejahteraan ummat, zakat merupakan salah satu instrumen pemerataan pendapatan. Zakat yang dikelola dengan baik, dimungkinkan dapat membangun pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan pendapatan. Monzer Kahf menyatakan bahwa zakat dan sistem pewarisan Islam cenderung kepada distribusi harta yang egaliter, dan bahwa sebagai akibat dari zakat, harta akan selalu beredar.

Zakat, menurut Mustaq Ahmad, adalah sumber utama kas negara sekaligus merupakan soko guru dari kehidupan ekonomi yang dicanangkan Al Qur’an. Zakat akan mencegah terjadinya akumulasi harta pada satu tangan, dan pada saat yang sama mendorong manusia untuk melakukan investasi dan mempromosikan distribusi. Zakat juga merupakan institusi yang komprehensif untuk distribusi harta, karena hal ini menyangkut harta setiap muslim secara praktis, saat hartanya telah sampai atau melewati nishab. Akumulasi harta di tangan seseorang atau sekelompok orang kaya saja, secara tegas dilarang Allah SWT, sebagaimana firman-Nya : “…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…” (QS. Al Hasyr, 59:7).
KEDUDUKAN ZAKAT DALAM ISLAM
Sebagai suatu ibadah pokok, zakat termasuk salah satu rukun Islam, sehingga keberadaannya dianggap sebagai ma’lum min ad diin bi adl dlaurah, yaitu diketahui secara otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang. Sehingga tidak aneh kalau Allah SWT mensejajarkan kata shalat dan kewajiban berzakat dalam berbagai bentuk kata tidak kurang dari 27 ayat.

Al-Quran menyatakan bahwa kesediaan berzakat dipandang sebagai indikator utama ketundukan seseorang terhadap ajaran Islam, ciri utama mu’min yang akan mendapatkan kebahagiaan hidup dan ciri utama mu’min yang akan mendapatkan rahmat Allah SWT. Kesediaannya berzakat dipandang pula sebagai orang yang selalu berkeinginan untuk membersihkan diri dan jiwa dari berbagai sifat buruk, sekaligus berkeinginan untuk selalu membersihkan, mensucikan dan mengembangkan harta yang dimilikinya. Sebagaimana firman Allah SWT :

“…Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” (QS. At Taubah :5)

“Ambillah zakat dari sebagian kekayaan mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Qs: At-Taubah: 103)

“…Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan”. (QS. Ar Ruum, 30:39)

Sebaliknya, ajaran Islam memberikan peringatan dan ancaman keras terhadap orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat. Di akhirat kelak, harta benda yang disimpan dan ditumpuk tanpa dikeluarkan zakatnya, akan berubah menjadi azab bagi pemiliknya. Allah SWT telah berfirman dalam surat Attaubah ayat 35 :

“Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka : ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.

Judul asli: pengenalan zakat
Sumber: www.rumahzakat.org

Dikirim pada 17 Agustus 2009 di


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Rabi’ Ibnu Khutsaim adalah seorang dari Bani Mudharr (Quraisy), beliau adalah seorang yang selalu tenggelam dalam ibadah pada ALLAH SWT, sehingga orang-orang mengatakan: “Ia adalah orang yang dari sejak jari-jarinya masih merah sudah ahli ibadah.” Dari sejak kecil Rabi’ dibesarkan dalam ibadah kepada ALLAH SWT, ia seorang yang terjaga dari perbuatan maksiat. Ketika usia masih kanak-kanak ia sudah sedikit sekali tidur di waktu malam, ibunya sering memergokinya di tengah malam sedang shalat diam-diam sementara suara tangis di dalam dadanya bagaikan air yang sedang mendidih di dalam kuali. Ketika ibunya bertanya kepadanya: “Mengapakah kamu tidak tidur?” Jawabnya: “Bagaimana aku bisa tidur, sementara malam telah makin larut dan musuhku senantiasa mengintaiku.” Kata ibunya: “Siapakah musuhmu itu anakku?” Jawab Rabi’: “Maut wahai ibu.”
Semakin remaja maka makin tambah-tambah taqwanya, sehingga setiap malam suara tangisnya makin memilukan, pagi dan siang haripun ia sering berlinangan air mata. Sampai-sampai ibunya menjadi bingung dan bertanya kepadanya:
“Anakku sayang, apakah kau pernah berbuat dosa besar?”
Jawab Rabi’: “Benar ibu, aku telah berbuat dosa yang sangat besar.”
Kata ibunya: “Inna liLLAHi… Dosa apakah itu?”
Jawab Rabi’: “Aku telah membunuh orang wahai ibu.”
Kata ibunya : “Ya RABB! Kalau begitu segeralah minta maaf dan kita mohonkan untuk bisa membayar diyat kepada
keluarganya.”
Jawab Rabi’: “Wahai ibu, aku telah membunuh diriku sendiri dan aku membunuhnya dengan dosa-dosaku, itu sebabnya aku selalu menangis…”
Rabi’ Ibnu Khutsaim adalah murid tersayang dari sahabat AbduLLAH bin Mas’ud ra (salah seorang dari 7 orang ahli al-Qur’an dimasa Nabi SAW). Ketika pertama kali ia bertemu dengan Ibnu Mas’ud ra, maka Ibnu Mas’ud berkata: “Aku melihat kamu sekali saja wahai anak, aku lihat wajahmu termasuk AL-MUKHBITIN (orang-orang yang sangat khusyu’ kepada ALLAH SWT).”
Suatu hari Mundzir ats Tsauri berkunjung ke rumah Hilal bin Isaaf (keduanya adalah tokoh tabi’in), lalu kata Hilal: “Mari kita berkunjung ke rumah syaikh kita.” Lalu mereka berdua datang ke rumah Rabi’ Ibnu Khutsaim. Kata Hilal: “Jika engkau duduk bersamanya, maka sungguh ia akan menundukkan kepala menghormatimu dan tidak akan berbicara sebelum engkau mulai berbicara.”
Rabi’ adalah seorang yang sangat miskin, bukan karena tidak berusaha tapi karena ia selalu mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri, sehingga bajunya penuh tambalan disana-sini. Suatu hari selesai bekerja dan mendapatkan upahnya, ia membeli makanan dan ketika akan dimakannya ia berkata dalam hati: “Alangkah bahagianya jika aku berikan ini pada orang yang lebih membutuhkan…” Maka diberikannya kepada orang yang lebih fakir darinya, ketika ia ditegur oleh sahabat-sahabatnya tentang hal itu, maka ia manjawab dengan membacakan QS Ali Imraan ayat 92 [1].
Pernah pada suatu hari ada orang yang memujinya akan ketaqwaannya, maka jawabnya: “Jangan tertipu dengan bentuk lahiriah seseorang, sebab manusia hanya bisa menilai lahiriahnya saja, dan ingatlah bahwa setiap kita akan dinilai amal kita, dan penilainya adalah Yang Maha Teliti dan yang paling teliti.” Ia selalu berkata:
“Penyakit badan itu adalah obat bagi penyakit kenikmatan, istighfar adalah obat bagi penyakit dosa-dosa dan cara pengobatannya adalah kamu berhenti dari maksiat dan tidak mengulanginya.”
Banyak kata-kata mutiara yang diucapkannya, diantaranya: “MA QUTILA HUNA, FA KUTIBA WA QURI’A HUNAK…” (Apa-apa yang kamu ucapkan di sini/dunia, maka akan dituliskan dan dibacakan semuanya nanti/di akhirat…) Dalam waktu lain ia berkata: “Ingat bahwa maut itu ghaib, dan sesuatu yang ghaib dan lama tidak menampakkan diri, maka ia akan menimbulkan keraguan tentang keberadaannya, padahal ia akan datang dengan dahsyatnya pada kalian, bacalah oleh kalian jika kalian mau QS al-Fajr ayat 22 [2].” Ketika itu lalu terdengarlah panggilan adzan, maka Rabi’ memungkas ucapannya dengan berkata: “HAYYA ‘ALA DA’IYALLAH… (Marilah pada penyeru-penyeru ALLAH…) Walaupun harus merangkak…”
Rabi’ paling takut jika membaca QS al-Jaatsiyyah ayat 22 [3]. Ayat itu selalu diingatnya, dan jika ia membaca ayat tersebut maka ia akan menangis terus sampai fajar, sehingga basah janggut dan gamisnya. Suatu hari ia sebagaimana salafus-shalih yang lainnya berjalan-jalan untuk menyaksikan ayat-ayat ALLAH SWT (tafakkur-alam). Dan ia melihat seorang pandai besi yang sedang membakar kapur yang besar, maka ia teringat akan neraka sehingga ia berkata: INTAHAYNA YA RABB… INTAHAYNA… (Aku benar-benar akan berhenti wahai RABB…Aku benar-benar akan berhenti…)” Maksud Rabi’ adalah berhenti dari maksiat. Lalu ia jatuh pingsan… Dan beberapa waktu kemudian orang menemukannya telah wafat…
Selamat berpisah wahai orang yang sangat takut kepada ALLAH, Jannah ALLAH tempat kembali yang sesuai dengan ketaqwaanmu…
Catatan Kaki:
[1] “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran [3]: 92)
[2] “…dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” (QS. al-Fajr [89]: 22)

[3] “Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.” (QS. al-Jaatsiyyah [45]: 22)

Sumber: www.al-ikhwan.net

Dikirim pada 17 Agustus 2009 di Rijalud Da’wah


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Oleh: Alm. Ustadz Rahmat Abdullah
Sebelum seorang manusia bekerja dan beramal, sebelum seorang muslim melakukan amal-amal yang banyak dalam kehidupannya; pertama-tama yang harus dimiliki adalah al-fahmu. Sebuah pemahaman yang benar tentang ad-dien, tentang agama ini. Sesudah itu, dia harus punya komitmen untuk melaksanakannya. Dia pun merawat amal itu dengan kesabaran dan memilih yang terbaik dari segala kemungkinan yang terbuka di depannya.

Ketika Allah membebaskan seseorang dari semisal kewajiban berperang, mempertahankan dan memperjuangkan Islam, seperti Rasulullah melaksanakannya, 27 kali pertempuran beliau pimpin langsung, 35 kali dipimpin oleh para sahabat, 62 kali perang besar, dengan belasan perang-perang kecil, semua bukan dilandasi nafsu, tapi semata-mata pelaksanaan perintah Allah swt. Bahkan untuk nafsu itu adalah hal yang tidak menyenangkan. Ada beberapa kelompok yang dibebaskan (tidak wajib) bertempur, yaitu perempuan, ibu-ibu, kakek-kakek, jompo-jompo, dan bayi-bayi. Barulah nanti menjadi fardu `ain kalau musuh masuk kota, sudah masuk di celah-celah rumah, isteri tidak perlu izin suami untuk bertempur, pembantu, budak tidak perlu izin tuannya untuk bertempur, semua sudah menjadi fardu `ain yang tidak bisa dihindari.

Nah, di antara orang-orang yang dihindari, tidak boleh dituduh desertir, melarikan diri dari kewajiban dan tidak mereka disebut berdosa lantaran tidak berperang, adalah orang-orang sakit, orang-orang lemah, dan orang-orang yang tidak punya biaya, tidak punya senjata, tidak punya \ kendaraan untuk berperang, karena ini bukan membantu tapi malah merepotkan dalam pertempuran. Allah menyebutkan dalam surat at-taubah ayat 91-92.

Tidak ada dosa, tidak ada halangan, tidak boleh mereka dituduh malas, tidak boleh mereka dituduh desertir melarikan diri dari kewajiban membela Islam. Siapa mereka? Pertama, dhuafa’. Para ahli tafsir di antaranya Imam al-Qurthubi, Imam Ibnu Katsir, dan Syekh Jamaluddin al-Qassimi, dan beberapa ahli tafsir sepakat bahwa ad-dhuafa’ itu an-nisaa wal ajaaiz, wa syuyukh, wa sibyan. Perempuan-perempuan , kakek-kakek, nenek-nenek, dan anak-anak. Yang tidak mungkin bekerja berat, apalagi yang namanya berperang, yang logikanya hanya dua: membunuh atau dibunuh.

Karena memang Quraisy sesudah ditinggalkan Muslimin yang hijrah ke Madinah, tidak puas kota Makkah ditinggalkan begitu saja oleh kaum muslimin. Mereka mengejar dan selalu melakukan tindakan-tindakan. Dan begitulah watak karakter abadi kekuatan kafir terhadap kekuatan beriman dengan cara apapun; dengan surat kabar, dengan majalah, dengan partai, dengan kekuatan apa saja. Karenanya, kita disyariatkan untuk shalat khauf kalau lagi perang, shalat dua rakaat Imamnya dia berdiri rakaat pertama, makmumnya tasyahud, untuk apa? Dia pergi yang lagi piket jaga gantian. Semua disebabkan Allah mengatakan yang artinya: "Orang-orang kafir sangat ingin kamu lalai, tidak memelihara, tidak menjaga senjata-senjata kamu dan barang-barang bawaan kamu, bahan makanan."

Kita tahu dalam perang modern ini dua pos yang selalu diincar musuh: tentara dan perekonomian. Amerika mengembargo senjata untuk negeri semacam Indonesia, tentaranya lemah, pesawatnya kuno, tank-nya gampang mogok. Ekonominya dikelola orang-orang lain yang memusuhi Islam. Dan setiap muncul kekuatan baru yang akan menguasai negeri ini dengan jalan siyasah seperti demokrasi, partai dan sebagainya, mereka tetap akan mencoba menghalangi jalan ke sana.

Nah, ketika golongan-golongan ini dibebaskan, pertama dhuafa’, dan yang kedua al-mardho’ orang orang sakit. Yang ketiga, orang-orang yang tidak punya biaya, tidak punya alat-alat untuk membela dalam pertempuran. Tidak boleh mereka disebut melarikan diri dari kewajiban dan mereka tidak berdosa. Cuma, ayat ini tidak berhenti di sini. Apakah oleh karena orang sudah bebas, tidak lagi wajib bertempur kayak kakek-kakaek, nenek-nenek, anak-anak, perempuan-perempuan , lalu mereka senang-senang. Seolah mereka mengatakan: kita sudah tidak wajib berperang, enak.

Di sinilah letak perbedaan: mana mental munafikin dan mana mental orang beriman. Kalau munafikin selalu senang, orang-orang yang selalu absen dan maunya di belakang. Betul-betul senang apabila mereka tidak tercatat di buku induk pasukan, tidak dimasukkan ke dalam pasukan yang ikut membela Islam. Begitulah fakta yang terungkap dalam perang Badar, Uhud, Hunain, Khandak, dan bermacam-macam perang yang lain.

Di sinilah terlihat perbedaan munafik dan mukmin. Mereka bisa siapa saja, di mana saja; kalau mereka benar-benar beriman, sedih hatinya kalau tidak bisa ikut membela Islam. Sedih, sungguh sungguh kesedihannya kalau dia tidak bisa membela agamanya dengan apa yang bisa dia bela. Mungkin di Indonesia ini 99 persen umat Islam Indonesia bisa berkata saya tidak bisa haji karena miskin. 95 persennya mengatakan, "Saya tidak bisa membayar zakat lantaran saya miskin", "Saya tidak bisa keluarkan infaq dan sedekah, untuk diri saja sudah berat". Semua bisa diterima secara syar’an wa aqlan, secara akal menurut standar syariat agama kita bisa diterima alasan itu. Dan secara logika juga masuk akal kalau mereka tidak bayar zakat dan tidak pergi haji, karena makan pun sulit umpamanya.

Tapi tidak 1 persen pun, tidak 2 persen pun bisa diterima alasan orang mengatakan "Saya tidak bisa berdoa, saya tidak bisa simpati, saya tidak bisa suka kepada perjuangan Islam". Ini sudah di ambang batas. Kelewat batas orang yang mengatakan cinta saja tidak bisa, simpati saja pada perjuangan tidak bisa, berdoa saja tidak bisa, menggerakkan hati dan bibir untuk meminta kepada Allah, "Ya Allah, saya tidak bisa berjuang, saya tidak mempunyai ilmu yang cukup untuk mewakili perjuangan ini, di front-front perjuangan." Kalau di Palestina perjuangannya langsung dengan jasad dengan nyawa, kalau di tempat lain mungkin dengan pena dia menulis di surat kabar, majalah, buku-buku, ada yang di mimbar-mimbar, ada yang di gedung parlemen, ada yang menyelamatkan uang negara kalau dia menjadi menteri yang baik. Sekali lagi tidak bisa mereka mengatakan, "Saya tidak bisa berbuat apa-apa!"

Maka Allah mengatakan atas 3 hal ini dalam firman yang tadi saya sampaikan, orang lemah, orang sakit, dan tidak memiliki biaya, mereka tidak berdosa bila tidak ikut dalam pertempuran, tapi syarat: "idzaa nashohu lillahi wa rasulih." Apabila mereka mempunyai nashohu (ketulusan hati, punya azam yang kuat, punya cinta dan kesetiaan, punya tekad). Seandainya dia bisa, dia harus melakukan perjuangan itu. Barulah orang-orang lemah, orang sakit, perempuan, yang tidak wajib perang itu lepas dari kewajiban. Karena tidak semua amal digerakkan oleh badan saja, karena ada amal lisan namanya dzikir, ucapan, amar ma’ruf nahi munkar, ada amal jasad seperti haji, umroh, sa’i , thawaf, ada amal hati seperti niat yang baik, menjaga diri dari riya’, mengikhlaskan, memaafkan saudara kita, memasang niat yang kuat untuk memperjuangkan agama Allah, maka Allah mensyaratkan itu "idzaanashohu lillahi wa rasulih", himpunan yang berjalin antara tekad, ketulusan hati, kecintaan, kemauan berbuat seandainya punya modal untuk itu. Kalau ada orang yang mengatakan "biarain aja, ini urusan dunia, nggak ada urusannya dengan urusan akhirat." Tetapi, ketika orang-orang yang sudah bercokol di parlemen kebanyakan orang kafirnya, dibantailah rakyat; siapa yang bertanggungjawab? Rakyat itu bertanggung jawab atas masa depan dan kondisi mereka.

Nah, memang tidak ada jalan untuk menghukum orang-orang yang berbuat baik di antara muhsinin itu orang yang punya nashohu, orang yang memiliki ketulusan hati, kekuatan azam, kesucian niat, kecintaan, tekad yang kuat untuk berbuat. Apa tandanya? "Walaa alallladzina……."
[QS. At-Taubah (9): 92] tidak juga berdosa, tidak boleh disebut malas atau melarikan diri dari kewajiban. Siapa? Orang-orang yang sudah datang kepadamu, nggak punya modal, nggak punya apa-apa, tapi punya kekuatan tenaga, punya niat yang baik. Mereka berharap Rasulullah bisa memberikan kuda atau unta, membekalinya dengan tombak, pedang dan panah supaya bisa ikut berjihad.

Namun, ketika mereka datang, engkau hanya bisa mengatakan kalau sudah habis semua kuda, semua unta sudah habis, tombak panah sudah terbagikan, engkau hanya bisa menjawab "Saya tidak menemukan apa-apa lagi, saya tidak punya apa-apa lagi, kuda, unta, tombak, panah, sudah habis. Saya tidak bisa bawa kamu ikut berperang." Terpaksa mereka pergi dengan air mata yang berlinang. Menangis karena tidak bisa bergabung dalam sebuah perang yang mungkin akan menjadikan mereka cacat, buntung tangannya, atau mati syahid di sana. Itulah tanda kesungguhan orang-orang beriman. Mereka pun berlalu dengan duka yang teramat dalam. Semua itu lantaran mereka tidak punya biaya sedikit pun untuk membeli perlengkapan perang.

Kalau sekarang, orang berlomba-lomba cari modal jutaan hingga milyaran untuk jadi polisi, jadi camat, jadi tentara, jadi menteri. Dulu, di masa sahabat, orang mencari duit sendiri untuk setor nyawa (syahid).
Itulah bedanya zaman di mana hedonisme, orang berkiblat kepada kesenangan dunia sehingga lupa kepada niat akhirat. Oleh karena itu, Rasulullah saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi "dunia itu isinya cuma empat kelompok saja." Jumlah manusia milyaran, tapi kualitas manusia cuma empat. Yang pertama "rajulun attaahullahu `ilman wa maalan." Seseorang yang Allah
berikan ilmu dan harta. Fahuwa ya’malu bihi waya’lamu annalillahi fiihii haqqan wa yasilu bihi rahimah. Dia laksanakan kewajiban berharta kalau dia kaya, dia tahu Allah memiliki hak dalam harta itu, ada zakat, ada infaq, shadaqah. Dan dengan harta yang Allah berikan itu dia menyambung silaturahim.

Dulu semasa orang belum punya motor, cita-cita kalau sudah ke Jakarta mau silaturahim kepada kerabat, minimal sebulan sekali. Ternyata setelah punya motor, setahun sekali pun tidak. Alasannya, "Nanti setelah punya mobil." Sudah punya mobil silaturahim tidak jalan juga, telepon pun tidak diangkat. Orang lebih suka kumpul dengan kolega dagang, dengan teman-teman bisnis. Kalau memberi orang tua seratus ribu, terasa berat, tapi untuk traktir teman ratusan ribu tidak berat. Inilah di masa orang memuja kesenangan.
Golongan yang kedua, orang yang diberi ilmu tidak dapat harta. Miskin, tapi punya ilmu. Apa dia bilang dalam hatinya, "Kalau saja Allah memberi saya harta dan kekayaan seperti yang diberikan kepada si fulan yang saleh dan baik itu di mana dengan ilmunya dia beramal, sungguh saya juga akan beramal, saya iri, saya ingin seperti dia." Yang satu beramal karena kaya dan berilmu, yang satu berilmu saja tidak punya harta. Dua-duanya ini sama dalam satu derajat kebaikan.

Di masa lalu ada orang saleh bernama `Ali Al-Fatah. Ketika orang menggiring kambing-kambing qurban. Ali Al-Fatah memang miskin, tapi berilmu, akhlaqnya bagus. Dia bilang, "Ya Allah sekarang saya mau mendekatkan diriku dengan-Mu. Tapi dengan apa? Kambing tak punya. Aku hanya bisa mendekat denganMu melalui duka-dukaku dan kesedihanku. " Para komentator kisah ini mengatakan apa artinya mendekatkan diri dengan Allah dengan kesedihan? Artinya adalah ikut bersedih dengan kesedihan umat, ikut prihatin dengan keprihatinan umat, ikut senang kalau umat senang, ikut berduka kalau umat berduka. Itulah kita maksud dengan selalu memikirkan keadaan dan nasib umat.

Yang ketiga ialah seseorang yang Allah berikan harta, tapi tidak memiliki ilmu. Siang malam kerjaannya maksiat. Tidak mau menunaikan hak-hak Allah. Dan dia tidak menyambung silaturahmi. Salah satu bentuk memutuskan silaturahmi adalah zina. Kelompok yang ketiga ini Rasulullah berkata adalah kelompok yang paling buruk kedudukannya. Punya harta tapi tidak memiliki ilmu, dia gunakan harta itu sebagai sarana untuk maksiat. Melakukan maksiat apa saja yang bisa memuaskan nafsu rendahnya.

Kelompok berikutnya, orang yang tidak diberikan ilmu juga tidak memiliki harta. Sudah miskin, bodoh. Dia bilang kalau Allah memberikan saya kekayaan seperti orang ini (orang yang kaya tapi bodoh), saya akan berbuat kayak dia. Saya akan maksiat. Saya akan berzina. Saya akan mabuk. Walaupun dia tidak melakukan kedudukannya sama dengan orang yang melakukan maksiat, menikmati maksiat karena dia kaya, sementara yang keempat ini miskin tapi bodoh.

Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari, kitab paling shahih setelah Al-Qur’an, memberikan judul bab dalam hadits beliau yang shahih, bab al-ilmu qablal qauli wal amal, bab ilmu dulu sebelum banyak bekerja dan beramal. Dalilnya fa’lam annahu laailaaha illallah (QS. 47: 19) "Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selalin Allah," kemudian "wastaghfiruhu" barulah amal, barulah kata, beristighfarlah atas dosa dan kesalahan-kesalahan mu.

Awal modal kita adalah ilmu. Karena tidak berilmu, walau belum berbuat dosa; orang yang bercita cita maksiat tadi sudah memiliki derajat yang sama dengan para pemaksiat itu. Orang yang kelompok kedua walaupun belum beramal karena dia miskin, namun dia berilmu, dia bisa menset niatnya sehingga mendapat kedudukan yang sangat terhormat dan mulia.

Yang kedua ada kemauan. Seperti beberapa sahabat Nabi yang tidak ikut berperang, tapi pergi dengan air mata berlinangan, betul-betul sungguh kesedihannya. Itu namanya punya komitmen, punya ketulusan hati, punya kecintaan. Karena itu, selalulah pasang niat untuk berbuat baik.

Orang mengatakan kalau soal pergi haji bukan soal punya duit. Mungkin ini benar. Betapa banyak orang yang uangnya milyaran, tapi tidak pergi-pergi haji juga. Bahkan penduduk Saudi sendiri, tidak semuanya sudah berhaji. Tidak semuanya karena uang, tapi yang terpenting adalah niat dan juga azzam. Seperti itulah yang kerap dilakukan nenek-nenek dan kakek-kakek kita supaya bisa berangkat haji. Setiap hari mereka menabung. Berapa pun, yang penting menabung supaya bisa berangkat haji. Subhanallah! Kenapa hal itu jarang dilakukan generasi sekarang? Ini semua karena orang pada zaman ini, yang makan pendidikan modern, tapi kalah dalam soal niat, kalah dalam soal komitmen. Mengapa? Karena kesenangan hari ini adalah kiblat orang modern, hedonisme.


Dikirim pada 17 Agustus 2009 di Taujih


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

21 April, telah tiba. Berbagai aktifitas kewanitaan digelar. Pakaian kain dan kebaya menghiasi setiap sudut negeri sebagai tanda peringatan jasa besar sang pahlawan wanita RA Kartini yang demikian terkenal dan sengaja dikenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia.
RA Kartini adalah sosok legendaris, pendobrak kekakuan adat dan tradisi keraton yang biasa memingit wanita, menuju sebuah kebebasan memperoleh pendidikan dan mengeluarkan pendapat. Demikian agung sosok RA Kartini dimata kaum feminis Indonesia. Dianggap sebagai pelopor gerakan emansipasi, gerakan menyamakan derajat antara pria dan wanita yang sudah sejak Islam diturunkan telah diangkat demikian tinggi oleh Sang Pencipta. Namun sering dilupakan apa sebenarnya yang diinginkan oleh seorang RA Kartini.
Bila kita buka lembar demi lembar surat-surat RA Kartini yang dikumpulkan menjadi buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, maka kita akan tahu apa sebenarnya yang Ibu RA Kartini inginkan.
Beliau tidak mau mengerjakan segala sesuatu yang beliau tidak tahu apa makna yang harus beliau kerjakan, seperti ketika beliau disuruh sholat dan membaca Al Qur’an tanpa tahu apa isi bacaan yang beliau baca.
Beliau ingin setiap wanita mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga mereka dapat mendidik anak-anaknya secara baik dan benar. Bisa berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tidak terkungkung dalam kesunyian dan kekolotan adat. Namun juga bukan hanya sekedar untuk meraih prestasi, dan mengejar karir diluar rumah sambil melupakan atau berlepas diri dari kegiatan kerumah tanggaannya. Membiarkan anak-anak besar bersama pembantu rumah tangga yang memiliki pendidikan pas-pasan dan serba terbatas.
Pemikiran-pemikiran beliau yang semula lebih mengagungkan Barat daripada bangsanya sendiri mulai bergeser setelah beliau mendapatkan pengetahuan dan mengerti kandungan Al Qur’an yang dia peroleh dari pengajian. Hingga tercetuslah perkataan “habis gelap terbitlah terang”, yang beliau dapatkan ketika memahami isi surat Al Baqarah ayat 257. “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) menuju cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya”.
Kini saatnya, kita kaum muslimah menyadari, untuk tidak mengikuti secara mentah-mentah apa yang digembar-gemborkan oleh kaum feminis. Untuk menuntut hak, meminta persamaan derajat dengan kaum pria dan meminta jatah 30% di parlemen. Karena bila para muslimah memiliki prestasi, segala kedudukan akan dengan sendirinya tersandang tanpa harus diminta. Insya Allah. Wallahu a’lam bishshowab.
(Ummu Shofi/ari_aji_astuti@yahoo.com)
Sumber: www.eramuslim.com, gambar:
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
tantikris.wordpress.com


Dikirim pada 17 Agustus 2009 di Annisa’


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Sebagai seorang da’i, atau sebagai seorang anggota lembaga yang menamakan dirinya sebagai lembaga da’wah, sudah seharusnyalah ia mempunyai hubungan yang kokoh kuat (quwwatush-shilah) dengan Allah swt.
Ada banyak sarana yang bisa kita jadikan sebagai opsi atau pilihan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hubungan tersebut.
Di dalam al mustakhlash fi tazkiyatil anfus Sa’id Hawa rahimahullah menyebutkan 13 sarana yang bisa kita jadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah swt. Mulai dari shalat, zakat-infaq-sedekah, puasa, haji, tilawatul qur’an, dzikrullah, tafakkur alam dan seterusnya.
Meskipun demikian, kita masih sering merasakan adanya kekeringan ruhani, karena kita memang sangat jarang mengalirinya dengan siraman-siraman ruhani yang berupa sarana-sarana tersebut. Atau istilah accu-nya, kita jarang ngeces accu dan baterai ruhani yang kita miliki dengan sarana-sarana Islamiyyah itu tadi.
Alasan yang sering kita kemukakan selalu sama dan klasik: sibuk dan repot alias susah mengatur dan mendapatkan waktu senggang untuk menyiram dan mengecesnya.
Kadangkala, kalau kita sedang berkumpul dengan sesama kader, kita ingat bahwa ruhani kita sedang sangat kekeringan. Namun begitu keluar dari majlis ikhwah, kita kembali lagi menjadi manusia-manusia yang "sibuk".
Namun, kita perlu mengingat bahwa kesibukan kita tidak berarti meninggalkan langkah-langkah untuk melakukan siraman-siraman dan pengecesan ruhani kita.
Mari kita renungkan bersama firman Allah swt berikut ini:
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Muzzammil: 20).
Ayat ini menjelaskan bahwa:
1. Allah swt mengetahui bahwa kemampuan kita dalam berqiyamullail berbeda-beda, ada yang hampir mampu mencapai 2/3 malam, ada yang mampu setengah malam, ada yang sepertiga malam.

2. Allah swt-lah yang membuat ukuran-ukuran siang dan malam.
3. Allah swt mengetahui bahwa kita ini lemah dan tidak akan mampu memenuhi kewajiban (ya, waktu itu qiyamullail setengah malam adalah kewajiban kaum muslimin) itu.
4. Allah swt mengetahui bahwa diantara kita ada yang sakit, ada yang sibuk mencari ma’isyah, ada yang sibuk berperang fi sabilillah.

Meskipun Dia mengetahui kesibukan kita, namun Dia tetap memerintahkan kepada kita untuk:
1. Membaca Al Qur’an (bahkan diulang dua kali) sesuai dengan kemudahan kita.
2. Menegakkan shalat.
3. Membayar zakat, dan
4. Memberikan pinjaman yang baik kepada Allah swt (sedekah dan semacamnya).
5. Banyak-banyak beristighfar.
Artinya, betapapun kesibukan yang melanda kita, kita tidak boleh melupakan tugas menyirami ruhani kita dan mengecesnya dengan berbagai sarana yang ada.

Ada banyak cara yang ditawarkan oleh Islam agar kita tetap bisa mendapatkan kesempatan melakukan siraman dan pengecesan ruhani kita. Diantaranya adalah:
1. Kita harus mensplit waktu-waktu yang kita miliki agar muncul menjadi berbagai macam saat, sehingga di hadapan kita akan muncul sederet waktu yang bisa kita daya gunakan.
Pada suatu kali seorang sahabat yang bernama Hanzhalah bertemu Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ’anhu. Begitu bertemu Hanzhalah berkata: Nafaqa Hanzhalah (Hanzhalah menjadi munafiq). Mendengar pernyataan seperti itu Abu Bakar kaget, lalu berkata: "Kenapa? Hanzhalah berkata: "Kalau kita berada di majlis nabi saw seakan kita melihat dengan kepala kita sendiri suasana surga danneraka, akan tetapi begitu ketemu anak-anak, kita lupa semua yang kita rasakan tadi". Mendengar penjelasan seperti itu Abu Bakar menjawab: "Kalau begitu sama dengan saya". Singkat cerita keduanya mendatangi nabi saw. Setelah keduanya menceritakan apa yang dirasakannya, nabi saw menjawab: "Akan tetapi sa-’ah wa sa-’ah". Maksudnya: bagilah (spiltlah) waktumu agar ada saat untuk ini dan ada saat untuk itu. (HR Bukhari).
2. Kita harus pandai memanfaatkan "serpihan-serpihan" waktu yang kita miliki dan mendaya gunakannya untuk melakukan penyiraman dan pengecesan ruhani kita.
Pada suatu hari Rasulullah saw memperingatkan bahaya memaksakan diri sendiri untuk memperbanyak ibadah. Beliau bersabda: "Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada yang memberat-beratkan diri sendiri kecuali agama itu akan mengalahkannya, karenanya, luruskan langkah dan kokohkan, berusahalah untuk selalu mendekati (target ideal), bergembiralah (jangan pesimis), dan meminta tolonglah dengan waktu pagi, waktu sore dan sedikit malam". (HR Bukhari).
Saudara-saudara yang dimuliakan Allah..
3. Terakhir sekali, kita harus pandai-pandai membuat diversifikasi acara (keragaman acara) agar tidak cepat bosan, ingatlah bahwa "sesungguhnya Allah swt tidak bosan sehingga kita bosan, dan bebanilah jiwa ini sesuai dengan kadar kemampuannya, dan bahwasanya amal yang paling dicintai Allah swt adalah yang kontinyu" (HR Ahmad, Abu Daud dan An-nasa-i).
Semoga Allah swt memberikan taufiq, bimbingan dan kekuatan kepada kita untuk istiqamah di atas jalan agama-Nya, amiiin.
Sumber: www.hudzaifah.org, gambar: deviantart.com


Dikirim pada 17 Agustus 2009 di Taujih


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Assalamu’alaikum Wr Wb

Ustadz, kalau Qur’an diperuntukkan untuk seluruh umat manusia, kenapa diturunkan dalam bahasa Arab? Kan tidak semua orang bisa bahasa Arab? Bagaimana kita tahu kalau Qur’an memang asli dari Allah, bukan buatan Muhammad? Terimakasih

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Muslim
Jawaban
Assalamu ’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu ’ala rasulillah, wa ba’du

Mengapa Al-Qur’an berbahasa Arab?

Alasannya pastilah terkait dengan karakteristik Al-Qur’an itu sendiri, sehingga bahasa lain dianggap tidak layak digunakan oleh Al-Qur’an. Maka untuk menjawabnya, kita perlu tahu karakteristik Al-Qur’an itu sendiri.

1. Al-Qur’an untuk Semua Manusia

Berbeda dengan kitab suci agama sebelum Islam yang diperuntukkan khusus kepada kalangan terbatas, Al-Qur’an diperuntukkan untuk seluruh makhluk melata yang bernama manusia. Maka bahasa yang digunakan Al-Qur’an haruslah bahasa yang punya posisi strategis bagi semua bangsa manusia. Dan bahasa itu adalah bahasa arab dengan sekian banyak alasannya.
Bahasa arab adalah bahasa tertua di dunia.

Sebagian ahli sejarah bahasa mengatakan bahwa Nabi Adam as dan istrinya Hawwa adalah manusia yang pertama kali menggunakan bahasa Arab. Sebab mereka diciptakan di dalam surga, dimana ada dalil yang menyebutkan bahwa bahasa penduduk surga adalah bahasa arab. Ketika Adam as menjejakkan kaki pertama kali di permukaan planet bumi, maka bahasa yang dilafadzkannya tentu bahasa arab.

Kalau kemudian anak-anak Adam berkembang biak dan melahirkan jutaan bahasa yang beragam di muka bumi, semua berasal dari bahasa arab. Jadi bahasa arab memang induk dari semua bahasa yang dikenal umat manusia. Wajar pula bila Al-Qur’an yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia menggunakan bahasa yang menjadi induk semua bahasa umat manusia.
Bahasa Arab Paling Banyak Memiliki Kosa Kata

Sebagai induk dari semua bahasa di dunia dan tetap digunakan umat manusia hingga hari ini, wajar pula bila bahasa Arab memiliki kosa kata dan perbendaharaan yang sangat luas dan banyak. Bahkan para ahli bahasa Arab menuturkan bahwa bahasa Arab memiliki sinonim yang paling menakjubkan. Kata unta yang dalam bahasa Indonesia hanya ada satu padanannya, ternyata punya 800 padanan kata dalam bahasa arab, yang semuanya mengacu kepada satu hewan unta. Sedangkan kata ’anjing’ memiliki 100-an padanan kata.

Fenomena seperti ini tidak pernah ada di dalam bahasa lain di dunia ini. Dan hanya ada di dalam bahasa arab, karena faktor usia bahasa arab yang sangat tua, tetapi tetap masih digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari hingga hari ini. Dengan alasan ini maka wajar pula bila Allah SWT memilih bahasa arab sebagai bahasa yang dipakai di dalam Al-Qur’an.
2. Al-Qur’an Berlaku Sepanjang Masa

Berbeda dengan kitab suci agama lain yang hanya berlaku untuk masa yang terbatas, Al-Qur’an sebagai kitab suci diberlakukan untuk masa waktu yang tak terhingga, bahkan sampai datangnya kiamat. Maka bahasa yang digunakan Al-Qur’an haruslah bahasa yang tetap digunakan oleh umat manusia sepanjang zaman.

Kenyataannya, sejarah manusia belum pernah mengenal sebuah bahasa pun yang tetap eksis sepanjang sejarah. Setiap bahasa punya usia, selebihnya hanya tinggal peninggalan sejarah. Bahkan bahasa Inggris sekalipun masih mengalami kesenjangan sejarah. Maksudnya, bahasa Inggris yang digunakan pada hari ini jauh berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang Inggris di abad pertengahan. Kalau Ratu Elizabeth II masuk ke lorong waktu dan bertemu dengan ’mbah buyut’-nya, King Arthur, yang hidup di abad pertengahan, mereka tidak bisa berkomunikasi, meski sama-sama penguasa Inggris di zamannya. Mengapa?

Karena meski namanya masih bahasa Inggris, tapi kenyataannya bahasa keduanya jauh berbeda. Karena setiap bahasa mengalami perkembangan, baik istilah maupun grammar-nya. Setelah beratus tahun kemudian, bahasa itu sudah jauh mengalami deviasi yang serius.

Yang demikian itu tidak pernah terjadi pada bahasa Arab. Bahasa yang diucapkan oleh nabi Muhammad SAW sebagai orang arab yang hidup di abad ke-7 masih utuh dan sama dengan bahasa yang dipakai oleh Raja Abdullah, penguasa Saudi Arabia di abad 21 ini. Kalau seandainya keduanya bertemu dengan mesin waktu, mereka bisa ’ngobrol ngalor ngidul’ hingga subuh dengan menggunakan bahasa arab.

Dengan kenyataan seperti ini, wajarlah bila Allah SWT memilih bahasa arab sebagai bahasa Al-Qur’an Al-Kariem yang abadi. Kalau tidak, boleh jadi Al-Qur’an sudah musnah seiring dengan musnahnya bahasanya.

3. Al-Qur’an Mengandung Informasi yang Padat

Diantara keistimewaan bahasa arab adalah kemampuannya menampung informasi yang padat di dalam huruf-huruf yang singkat. Sebuah ungkapan yang hanya terdiri dari dua atau tiga kata dalam bahasa arab, mampu memberikan penjelasan yang sangat luas dan mendalam. Sebuah kemampuan yang tidak pernah ada di dalam bahasa lain.

Makanya, belum pernah ada terjemahan Al-Qur’an yang bisa dibuat dengan lebih singkat dari bahasa arab aslinya. Semua bahasa umat manusia akan bertele-tele dan berpanjang-panjang ketika menguraikan isi kandungan tiap ayat. Sebagai contoh, lafadz ’ain dalam bahasa arab artinya ’mata’, ternyata punya makna lain yang sangat banyak. Kalau kita buka kamus dan kita telusuri kata ini, selain bermakna mata juga punya sekian banyak makna lainnya. Di dalam kamus kita mendapati makna lainnya, seperti manusia, jiwa, hati, mata uang logam, pemimpin, kepala, orang terkemuka, macan, matahari, penduduk suatu negeri, penghuni rumah, sesuatu yang bagus atau indah, keluhuran, kemuliaan, ilmu, spion, kelompok, hadir, tersedia, inti masalah, komandan pasukan, harta, riba, sudut, arah, segi, telaga, pandangan, dan lainnya.

Bahasa lain tidak punya makna yang sedemikian padat yang hanya terhimpun dalam satu kata dan hurufnya hanya ada tiga. Dan wajar pula bila Allah SWT berkenan menjadi bahasa arab sebagai bahasa untuk firman-Nya yang abadi.

4. Al-Qur’an Harus Mudah Dibaca dan Dihafal

Sesuai dengan fungsi Al-Qur’an yang salah satunya sebagai pedoman hidup pada semua bidang kehidupan, Al-Qur’an harus berisi beragam materi dan informasi sesuai dengan beragam disiplin ilmu. Dan kita tahu bahasa dan istilah yang digunakan di setiap disiplin ilmu pasti berbeda-beda. Dan sangat boleh jadi seorang yang ahli di dalam sebuah disiplin ilmu akan menjadi sangat awam bila mendengar istilah-istilah yang ada di dalam disiplin ilmu lainnya.

Dan kalau beragam petunjuk yang mencakup beragama disiplin ilmu itu harus disatukan dalam sebuah kitab yang simpel, harus ada sebuah bahasa yang mudah, sederhana tapi tetap mengandung banyak informasi penting di dalamnya. Bahasa itu adalah bahasa Arab. Karena bahasa itu mampu mengungkapkan beragam informasi dari beragam disiplin ilmu, namun tetap cair dan mudah dimengerti. Dan saking mudahnya, bahkan bisa dihafalkan di luar kepala.

Salah satu karakteristik bahasa Arab adalah mudah untuk dihafalkan, bahkan penduduk gurun pasir yang tidak bisa baca tulis pun mampu menghafal jutaan bait syair. Dan karena mereka terbiasa menghafal apa saja di luar kepala, sampai-sampai mereka tidak terlalu butuh lagi dengan alat tulis atau dokunentasi. Kisah cerita yang tebalnya berjilid-jilid buku, bisa digubah oleh orang arab menjadi jutaan bait puisi dalam bahasa arab dan dihafal luar kepala dengan mudah. Barangkali fenomena ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tulis menulis kurang berkembang di kalangan bangsa arab saat itu. Buat apa menulis, kalau semua informasi bisa direkam di dalam otaknya?

Maka sangat wajar kalau Allah SWT menjadikan bahasa arab sebagai bahasa Al-Qur’an.

5. Al-Qur’an Harus Indah dan Tidak Membosankan

Salah satu keunikan bahasa arab adalah keindahan sastranya tanpa kehilangan kekuatan materi kandungannya. Sedangkan bahasa lain hanya mampu salah satunya. Kalau bahasanya indah, kandungan isinya menjadi tidak terarah. Sebaliknya, kalau isinya informatif maka penyajiannya menjadi tidak asyik diucapkan.

Ada sebuah pintu perlintasan kereta api yang modern di Jakarta. Setiap kali ada kereta mau lewat, secara otomatis terdengar rekaman suara yang membacakan peraturan yang terkait dengan aturan perlintasan kereta. Awalnya, masyarakat senang mendengarkannya, tapi ketika setiap kali kereta mau lewat, suara itu terdengar lagi, maka orang-orang menjadi jenuh dan bosan. Bahkan mereka malah merasa terganggu dengan rekaman suara itu. Ada-ada saja komentar orang kalau mendengar rekaman itu berbunyi secara otomatis.

Tapi lihatlah surat Al-Fatihah, dibaca orang ribuan kali baik di dalam shalat atau di luar shalat, belum pernah ada orang yang merasa bosan atau terusik ketika diperdengarkan. Bahkan bacaan Al-Qur’an itu begitu sejuk di hati, indah dan menghanyutkan. Itu baru pendengar yang buta bahasa arab. Sedangkan pendengar yang mengerti bahasa arab, pasti ketagihan kalau mendengarnya.

Tidak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa tetap terdengar indah ketika dibacakan, namun tetap mengandung informasi kandungan yang kaya, kecuali bahasa arab. Maka wajarlah bila Allah SWT berfirman dengan bahasa arab.

Apa yang kami sampaikan ini baru sebagai kecil dari sekian banyak hikmah diturunkannya Al-Qur’an dengan bahasa arab. Kita tidak tahu apa jadinya bila Al-Qur’an ini tidak berbahasa arab. Mungkin bisa jadi Al-Qur’an hanya ada di musium saja.

Dan jikalau Kami jadikan al-Quraan itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan, "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?.... (QS Fushshilat: 44)

Wallahu a’lam bish-shawab, Wassalamu ’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Sumber: Rubrik "Ustadz Menjawab" (www.eramuslim.com)
oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc

Dikirim pada 17 Agustus 2009 di Thullabul Ilmiy
Awal « 1 2 » Akhir
Profile

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Sesungguhnya segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Dan kita berlindung kepada Allah dari jahatnya nafsu dan buruknya amalan. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tiada yang mampu menyesatkannya dan barangsiapa yang telah disesatkan-Nya maka tiada yang mampu menunjukinya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang benar untuk diibadahi selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad Shallalahu alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. More About me

Archive
Tag
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 103.225 kali


connect with ABATASA